Orator aksi bernama Dano mengatakan cap separatis yang diberikan Pemerintah Indonesia kepada Benny juga pernah dialami Soekarno.
"Yang diucapkan Indonesia ke Benny Wenda, pernah dicapkan kolonial Belanda ke Sukarno. Dengan cap yang sama mengatakan pejuang itu separatis," kata Dano dalam aksi 'Aliansi Mahasiswa Antirasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan Militerisme' di depan Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Merdeka!" balas massa aksi.
![]() Juru Bicara United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Benny Wenda. (Dok. The Office of Benny Wenda) |
Aksi di depan Istana Kepresidenan juga diwarnai nyanyian lagu Papua Bukan Merah Putih.
Aksi dilakukan untuk memprotes pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Jumat (16/8) lalu.
Pengepungan di Surabaya sempat diwarnai tindakan rasis terhadap mahasiswa Papua. Insiden ini yang lantas diduga memicu unjuk rasa di sejumlah daerah di Papua dan Barat.
Gelombang demo dan protes terjadi di sejumlah daerah seperti Manokwari, Sorong, Jayapura, Fakfak. Di daerah-daerah itu demonstrasi berujung kerusakan. Fasilitas pemerintah dan kendaraan dirusak massa.
Kata Benny pernyataan Presiden Jokowi itu tidak cukup meredakan kerusuhan yang telah berlangsung di Papua sejak awal pekan ini.
"Kata-kata Presiden Jokowi tidak cukup. Rakyat Papua tidak akan berhenti berjuang untuk meraih kesetaraan, pengakuan, dan referendum kemerdekaan," kata Benny melalui pernyataan yang dirilis di situs ULMWP pada Selasa (20/8).
"Peristiwa seperti ini menunjukkan mengapa kami telah lama berjuang untuk referendum kemerdekaan. Rasisme terjadi bersamaan dengan kolonialisme dan represif. Layaknya orang kulit hitam di Afrika Selatan yang berjuang melawan apartheid, perjuangan kami melawan rasisme juga merupakan bentuk perjuangan untuk menentukan nasib sendiri," ujarnya menambahkan.
[Gambas:Video CNN] (dhf/wis)
