Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) V/Brawijaya Letkol Arm Imam Haryadi mengatakan skrosing atau penonaktifan Danramil Tambaksari, dilakukan untuk kepentingan penyidikan insiden tersebut.
"Iya, diskorsing dari jabatannya, jadi sementara dibebastugaskan, dinonaktifkan, jadi dalam rangka mempermudah penyidikan, kemudian juga mempertimbangkan jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," kata Imam, kepada CNNIndonesia.com, Minggu (25/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insiden di Asrama Mahasiswa Papua terjadi Jumat, 16 Agustus lalu. Saat itu aparat dan sejumlah ormas mengepung Asrama Mahasiswa Papua. Ada dugaan dalam pengepungan itu terjadi tindakan rasialis terhadap mahasiswa Papua.
Dugaan tindakan rasialis itu kemudian memicu protes masyarakat di sejumlah daerah di Papua dan Papua Barat. Di Manokwari, Sorong, Jayapura, Fakfak, protes massa berujung kerusuhan.
Imam sendiri membantah skorsing dan penyidikan terhadap lima anggota TNI terkait dengan dugaan ujaran bernada rasial di Asrama Mahasiswa Surabaya.
"Oh tidak, kalau ujaran rasisme, rasial itu, video tersebut, itu kita serahkan prosesnya di Polda. Posisi saat itu kan sangat ramai, asal suara itu kan tidak jelas, tidak serta merta kita menyalahkan si ini, nanti penyidikan tersebut kita percayakan ke kepolisian," ujarnya.
Sementara itu soal lama skorsing iniImam belum bisa memastikan. Dia mengatakan durasi skorsing tergantung proses penyidikan oleh Pomdam V/Brawijaya.
"Penyelidikan sudah selesai, berkas penyelidikan sudah masuk, saat ini pada tingkat penyidikan, di internal Pomdam V/Brawijaya. (Skorsing) tunggu kelengkapan penyidikan dan persidangan di pengadilan militer," katanya.
[Gambas:Video CNN] (frd/wis)