"Kalau dari potensi ancamannya sebenarnya dia lebih rendah di banding dengan di Jawa. Di Jawa kan terbuka dan kecil," ujar Muradi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/8).
Pemerintah sebelumnya telah memastikan bakal memindahkan ibu kota dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur, tepatnya ke Kutai Kertanegara dan Penajam Paser Utara. Infrastruktur dasar di dua kabupaten rencananya mulai dibangun pertengahan 2020.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Anies: Jokowi Tetap Ingin Bangun Jakarta |
Matra kedua yang perlu diperkuat adalah Angkatan Laut. Ia menilai perlu ada Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) baru mengingat posisi ibu kota baru berada di pesesir laut. Adapun untuk Angkatan Udara, ia menyebut perlu ada Skuadron baru untuk mendukung AD dan AL.
"Jadi kalau boleh dikatakan, semua potensinya masih harus sama-sama, tapi karena dia berada berbatasan langsung dengan negara lain walaupun jaraknya ribuan kilo tetap jadi bagian yang harus diperhatikan betul," ujarnya.
"Jadi menurut saya dengan keberadaan alutsista itu bisa lebih menjamin pertahanan ibu kota baru," ujar Muradi.
Muradi menambahkan pemindahan ibu kota secara otomatis akan berdampak pada pemindahan Markas Besar TNI dan Polri. Akan tetapi, ia mengatakan pemindahan itu tidak akan mempengaruhi koordinasi ketika terjadi ancaman.
"Pemindahan Mabes hanya secara administratif. Karena operasionalnya tersebar di banyak tempat," ujarnya.
Lebih dari itu, Muradi meminta semua pihak tidak berpolemik dengan kemungkinan Indonesia lebih mudah diinvasi lantaran pindah ke Kaltim. Ia menyebut peperangan saat ini dan masa yang akan datang berada di wilayah siber.
"Jadi mau pindah ke daerah terpencil sekalipun tidak pengaruh. Karena ancamannya bukan pendudukan, tapi siber dan sebagainya," ujar Muradi.
[Gambas:Video CNN] (jps/wis)