"Sebaiknya presiden, pemerintah mengerahkan daya upaya dan pikiran untuk menyelesaikan masalah Papua," kata Din di Jakarta, Rabu (28/8).
Din menyebut saran itu disampaikan secara pribadi, bukan atas nama lembaga manapun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pribadi sih nyaris EGP (emang gue pikirin)," kata Din.
Sementara itu, Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyebut belum pas jika alasan kepadatan penduduk menjadi landasan ibu kota dipindah dari Jakarta ke Kalimantan Timur.
Menurut dia, alasan kepadatan ini tak cocok disematkan lantaran di daerah manapun tentu akan terjadi kepadatan jika berubah nama menjadi ibu kota negara.
"Kalau alasan kepadatan menurut saya di ibu kota manapun tentu padat," kata Anwar.
Namun alasan kepadatan bagi MUI menurut Anwar memang belum cukup mengena hingga bisa digunakan sebagai landasan pemindahan ibu kota. Apalagi dalam keadaan saat ini, Jakarta yang sedang berbenah dengan membangun sejumlah moda transportasi publik.
"Belum lagi Jakarta sedang berbenah membangun moda transportasi seperti LRT, MRT ada kebijakan lain terkait ganjil genap, menurut saya alasan kepadatan tersebut belum mengena," jelas Anwar.
Meski begitu dia juga tak setuju jika pemerintah menggunakan alasan bebas polusi dan keamanan terhadap bencana. Untuk saat ini mesti ada argumentasi yang kuat untuk memindahkan ibu kota. Menurutnya tak cukup hanya dengan menggunakan alasan bencana dan kepadatan penduduk saja.
"Belum dipindah saja, disana sudah gempa. Pertimbangan dan argumentasi untuk dipindahkan ibu kota cukup kuat namun argumentasi untuk mempertahankan ibu kota juga harus lebih kuat," kata dia.
[Gambas:Video CNN] (ain/tst/ain)