"Saya pribadi tidak setuju karena tidak perlu (NKRI bersyariah) karena dengan Pancasila nilai Islam, Ketuhanan Yang Maha Esa, sudah ada," kata Din, di Gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (28/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari itu, Din mengatakan ada upaya yang dilakukan pihak-pihak tertentu untuk menghilangkan jejak-jejak islam dari perjalanan sejarah Indonesia.
"Tanpa bermaksud menuduh dan tanpa menyebut saya sangat rasakan dan jelas ada upaya menghilangkan jejak islam dari sejarah kita," kata Din.
Fakta dihilangkan jejak islam ini pun kata Din, telah banyak dia temukan. Misalnya soal sejarah bendera merah putih.
Namun, fakta itu tak pernah dibongkar kepada publik. Dia juga menyinggung fakta lain soal penetapan tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan RI. Kata dia, tanggal itu dipilih atas saran dan hasil renungan dari sejumlah kyai kala itu.
"Ini fakta sejarah, banyak lagi kalau kita gali. Betapa Bung Karno menyimpan Alquran kecil di sakunya. Betapa Bung Karno sampai rancang Monas dengan simbol keagamaan dan Islam sampai bangun patung Diponegoro menghadap Istana Negara, simbol sebagai wali. Untuk menjaga Istana ini simbol yang aktual," kata dia.
[Gambas:Video CNN] (tst/arh)