Hal itu dikatakan terkait pernyataan budayawan Betawi Ridwan Saidi bahwa Kerajaan Sriwijaya itu fiktif dan hanya sekelompok bajak laut pada masa lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Armada Sriwijaya menundukkan para perompak yang lalu lalang di kawasan perairan nusantara dan pasifik. Tapi alih-alih dibunuh, para bajak laut itu ditundukkan dan ditugaskan oleh kerajaan untuk menjaga keamanan perairan wilayah kekuasan Sriwijaya. Bajak laut itu memberi upeti sebagai imbalan tidak dibumihanguskan," ujar dia, yang merupakan Ketua Yayasan Kebudayaan Tandipulau ini, Kamis (29/8).
Budayawan Betawi Ridwan Saidi. (CNN Indonesia/Suriyanto) |
Hingga akhirnya Kaisar Dinasti China yang saat itu sedang menguat, mengirimkan Laksamana Cheng Ho untuk meluluhlantakkan kembali para bajak laut pada abad ke-15.
"Hingga akhirnya Cheng Ho menghancurkan bajak laut dan singgah ke Palembang dan daerah lain. Jadi sejarahnya bertautan kan?" ujarnya.
Berdasarkan fakta sejarah, Erwan menjelaskan biksu I-Tsing diperintahkan oleh Kaisar China untuk belajar bahasa Sansakerta di Kerajaan Sriwijaya untuk menerjemahkan ajaran Buddha yang ditulis menggunakan aksara itu.
"Menurut catatan, I-Tsing ke nusantara selain menerjemahkan, juga belajar bela diri karena di Sriwijaya saat itu sudah berkembang Kuntau. Jadi sangat aneh saat Ridwan Saidi bilang I-Tsing mencari Sriwijaya. Padahal fakta sejarahnya sudah ada perguruan tinggi agama Buddha di Sriwijaya saat I-Tsing datang," kata dia.
Candi Muara Takus, salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya. (CNN Indonesia/Bayu Saputra) |
"[Pernyataan bahwa] Sriwijaya fiktif dan bajak laut itu sangat ngawur, pendapat dari orang ngelantur," imbuh peraih gelar doktor dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
Sebelumnya diberitakan, Ridwan Saidi kemungkinan bisa dilaporkan ke polisi akibat pendapatnya soal Sriwijaya itu. Dia sendiri tak ambil pusing dengan rencana tersebut.
[Gambas:Video CNN] (idz/arh)
Budayawan Betawi Ridwan Saidi. (
Candi Muara Takus, salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya. (