Langkah tersebut bisa diambil oleh Jokowi jika menilai 10 nama calon yang tersisa tidak beres alias bermasalah. Hal ini lantaran Pansel Capim KPK merupakan bentukan Jokowi.
"Pansel ini adalah tangan Presiden, berarti Presidennya yang enggak bener gitu, bukan Panselnya, kenapa menunjuk orang ini? Menurut saya, kita ingatkan saja Jokowi bahwa ini ada yang enggak beres agar Jokowi bisa menunda, bisa membatalkan," kata Wakil Ketua Komisi III Desmond Junaidi Mahesa di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Contohnya) Budi Gunawan sudah fit and proper testdi DPR, Jokowi enggak mau melantik, selesai. DPR memang bisanya memproses, seperti pengalaman Budi Gunawan, sudah fit and proper test tapi Presiden enggak mau melantik, kami bisa apa?" ujar Politikus Partai Gerindra ini.
Dia mengingatkan, waktu penyelenggaraan uji kelayakan dan kepatutan sudah semakin mepet dengan akhir masa bakti anggota DPR periode 2014-2019.
"Harapan kami adalah Presiden segera menyerahkan ke Komisi III karena waktu untuk melakukan fit and proper test sudah sangat mepet," ujarnya.
"Pasti selesai. Bukan hanya optimis, pasti selesai," ujarnya.
Sebelumnya, Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo mengingatkan karakter dan integritas pimpinan KPK jadi pertaruhan kerja Jokowi.
Adnan mengatakan Jokowi harus tetap berhati-hati sebab kepala negara turut bertanggung jawab jika mengambil langkah yang salah dalam menentukan capim KPK.
Adnan kemudian menjelaskan dalam proses seleksi capim KPK yang sedang berlangsung kali ini, peran Jokowi juga sangat krusial dalam menentukan pilihan yang tepat. Menurutnya, posisi KPK harus diletakkan di atas semua kepentingan golongan dan politik.
[Gambas:Video CNN] (mts/osc)