Pada Senin (2/9) sore Sayang ditangkap di Bandara Rendani Manokwari lantaran kedapatan membawa 1.500 bendera Bintang Kejora berukuran kecil. Polisi juga menyita spanduk dan kaos yang dianggap memuat konten provokatif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Herry melanjutkan bendera-bendera itu rencananya dibagikan ke para demonstran di Papua Barat agar dibawa saat unjuk rasa. Sayang diduga memprovokasi massa aksi untuk menyuarakan tuntutan Kemerdekaan Papua.
Lihat juga:Risau Kelompok Muda dalam Konflik Papua |
Ia memastikan masih akan meminta keterangan ke sejumlah saksi. Hanya saja, Herry enggan menjelaskan detail saksi-saksi yang bakal dipanggil.
"Kemungkinan kuat ke organisasi-organisasi yang mengarah atau memiliki agenda Papua merdeka." kata dia.
Polda Papua Barat hingga kini masih mengantisipasi kemungkinan aksi massa. Herry mengatakan pasukan gabungan dari Polri dan TNI masih disiagakan di sejumlah lokasi yang berpotensi jadi titik konsentrasi massa.
"Dari Polri saja sudah 900 lebih, TNI kurang lebih juga sama. Jadi hampir 2.000 pasukan menjaga. Termasuk Sorong dan Fakfak," kata Herry.
Sayang sendiri sudah dipecat dari Perindo. Sekjen Partai Perindo Ahmad Rofiq menyatakan apa yang dilakukan Sayang itu tidak memiliki keterkaitan dengan Partai Perindo.
"Saat ini statusnya sudah bukan lagi sebagai anggota Perindo. Otomatis dia bukan lagi sebagai pengurus," kata Rofiq.
Rofiq berharap seluruh kader Perindo yang ada di Papua dapat berperan dalam menjaga kedaulatan NKRI, bukan malah memecah belah hingga mengikuti aksi dan membawa Bendera Bintang Kejora seperti yang dilakukan Sayang.
Bagi Perindo, lanjutnya, NKRI adalah harga mati. Oleh karena itu, pemecatan akan dilakukan kepada kader yang tidak sejalan dengan itu.
[Gambas:Video CNN] (ika/wis)