Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan mengatakan pihaknya bahkan hingga saat ini belum bisa berkomunikasi dengan para penghuni. Akibatnya olah TKP di lokasi kejadian terhambat.
"Sedang diselidiki karena kami masih mau masuk dari kemarin untuk mengolah TKP. Kami ingin tahu yang kasus sebenarnya, tapi kami tidak bisa masuk ke asrama," ujarnya Luki, di Mapolda Jatim, Selasa (10/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berharap saudara di wisma (Papua) ini, bahwa kita negara hukum, mari kita taati hukum yang berlaku, kami akan tangani secara prosedur supaya masalah ini cepat selesai," ujarnya.
"Kalau ada media (wartawan) yang bisa masuk (asrama), sampaikan kami anggota Polri ingin olah TKP yang ada di dalam, sampai sekarang kita belum tahu yang benar yang mana, pada prinsipnya kami akan lakukan proses hukum apabila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan," kata Luki.
"Yang penting kita bisa olah TKP, kalau kita tidak bisa olah TKP bagaimana kita bisa mau tahu kasus yang sebenarnya," kata dia.
Sementara itu, salah satu penghuni asrama Yoab Orlando mengaku masih trauma dengan pengepungan yang sebelumnya terjadi pada Agustus lalu. Karenanya, hingga saat ini, para penghuni asrama masih belum mau membuat laporan ke Kepolisian.
Sebelumnya, pada pukul 04.19 WIB Senin (9/9), para mahasiswa di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, dikagetkan dengan aksi pelemparan sejumlah ular ke dalam asrama.
Yoab menuturkan sedikitnya ada empat ekor ular yang dilempar ke dalam asrama. Yang pertama adalah seekor ular berjenis piton, di dalam karung beras ukuran 15 kilogram. Lalu ada tiga ular lainnya, berada di dalam karung kain.
"Kalau di dalam karung itu satu ekor, itu besar sekali, terus kalau tiganya itu di dalam kain, baru dilempar langsung ke dalam, kainnya tidak diikat keras, langsung ularnya tercerai itu (terlepas)," kata dia.
Usai pelemparan, satu ekor ular yang diduga berjenis piton berhasil ditangkap oleh para mahasiswa Papua. Sementara tiga ekor ular lainnya lepas ke pekarangan asrama.
Saat penghuni asrama mencoba menangkap ular-ular tersebut, ada beberapa orang yang memantau keadaan asrama tak jauh dari lokasi. Mahasiswa yang mengetahui keberadaan oran-orang itu lalu mengejarnya.
"Anak-anak sempat kejar, tapi (pelaku) lari, mereka sempat jatuhkan teropong, mereka berpakaian preman, empat orang dengan dua motor, tapi saya tidak tahu motor apa, dia lari lebih dulu," kata dia.
[Gambas:Video CNN] (frd/bmw)