Mario mengatakan demikian tak lepas dari keputusan Habibie saat menjabat Presiden RI pada 1998-1999 yang melakukan referendum atau jajak pendapat yang berujung lepasnya Timor Timur dari Indonesia dan menjadi negara dengan nama Timor Leste.
Kepada ANTARA, Mario mengatakan keputusan Habibie melaksanakan jajak pendapat di Timur Timur bagi pihak pro kemerdekaan pasti gembira, sedangkan yang pro Indonesia pasti merasa kecewa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga pro NKRI kala itu pasti merasa kecewa dengan keputusan Habibie. Karena hasil akhir referendum berdampak terhadap ratusan ribu orang pro NKRI yang terpaksa meninggalkan bumi Loro Sae dan tinggal di kamp-kamp pengungsian.
Namun kata dia, sebagai mayoritas beragama Katolik, warga Timor Timur pro NKRI yang menetap di Indonesia pasti tetap memberikan maaf dan mendoakan Habibie.
Lihat juga:Kenangan Ahok dan Anies Tentang BJ Habibie |
"Momentumnya kurang tepat atau terburu-buru sehingga hasilnya chaos besar-besaran dan berdampak pada banyaknya korban di kedua belah pihak," kata Mario Viera.
Bahkan chaos tersebut sampai membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengembargo Indonesia.
[Gambas:Video CNN] (antara/osc)