Tukang Galon Ikut Pilwalkot Tangsel dan Ajaran Bung Karno

CNN Indonesia | Kamis, 19/09/2019 09:43 WIB
Tukang Galon Ikut Pilwalkot Tangsel dan Ajaran Bung Karno Yusrianto, pedagang isi ulang air galon di Kampung Cilalung, mendaftarkan diri sebagai calon wali kota Tangsel. (CNN Indonesia/Aini Putri Wulandari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pedagang isi ulang air galon dan gas, Yusrianto, telah mendaftarkan diri menjadi calon wali kota Tangerang Selatan periode 2020-2025 ke kantor Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tangsel.

Yusri tinggal di rumah sederhana bersama istri dan dua anaknya di Kampung Cilalung, Kelurahan Jombang, Tangerang Selatan. Keluarga besarnya juga tinggal di wilayah itu, sambil berdagang.

Rumah Yusri ditempuh dengan menelusuri gang-gang kecil tempat kampung tersebut berada. Bahkan kendaraan roda empat tidak cukup untuk masuk ke gang rumah Yusri. Suasana perkampungan tampak hangat, warga saling mengenal.


Yusri menjadi tukang isi ulang galon sejak 2015. Dia menyebutnya sebagai pencarian jati diri.
Pria 36 tahun itu mengantarkan galon seharian, dari pukul 06.00 WIB hingga petang. Dia merasa pendapatannya sudah tercukupi dari berdagang tanpa sumber penghasilan lain.

"Penghasilan sebulanan bisa Rp3 juta hingga Rp4 juta-an," kata Yusri kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di rumahnya.

Sejak kuliah, Yusri tertarik pada dunia politik dan mengidolakan Sukarno. Dia pun berusaha mengamalkan Trisakti Bung Karno, yaitu kedaulatan di bidang politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

"Yang namanya Trisakti Bung Karno kayak apa praktiknya, lebih berdiri di atas kaki sendiri," ujar Yusri.


Didukung Keluarga

Terkait pencalonan wali kota Tangsel, Yusri masih tidak menyangka dengan keputusan tersebut. Dia mengatakan teman-temannya pun terkejut dan mempertanyakan kemampuan dirinya. Meski demikian, dia bersyukur mendapatkan dukungan dari keluarga.

"Istri kalau lihat saya, alhamdulillah. Kalau pun enggak ngomong tapi matanya berkaca-kaca," ujar Yusri.

Yusri terdorong daftar sebagai wali kota Tangsel karena sering mendengar keresahan warga sekitar. Dia mengklaim lebih dekat dengan masyarakat kelas bawah lantaran pekerjaannya.

"Saya harus berbuat sesuatu. Kalau pribadi dan kemampuan enggak banyak, usaha-usaha itu harus saya coba, saya berpikir mungkin jalannya adalah menjadi wali kota," kata Yusri.

Yusri memilih fokus pada permasalahan ekonomi dan pendidikan masyarakat, sesuai dengan keluhan selalu dia dengar dari warga.


Ia menceritakan aktivitasnya saat kuliah di Jurusan Manajemen Dakwah Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sejak 2002.

"Saya lebih banyak all out di dunia aktivis. Saya banyak konsolidasi dengan teman-teman membangun cabang-cabang GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) di Tangsel dan Kota Tangerang," kata Yusri.

Dia mengatakan kesibukannya mengurus organisasi membuat kuliahnya terbengkalai. Ia pun tidak lulus dari kampus UIN Jakarta. Yusri kemudian meneruskan pendidikan di STKIP Purnama Jakarta.

"Karena untuk membangun organisasi yang bisa langgeng kan prosesnya setahun, dua tahun," ujarnya.

Saat bergelut di organisasi, Yusri mempelajari Bung Karno. Dia mengaku sangat mengagumi pemikiran Sukarno hingga memutuskan diri menjadi pedagang dengan maksud berdikari.

[Gambas:Video CNN] (ani)