Anak-anak yang dieksploitasi tersebut ada yang masih balita, mulai dari yang berusia 1,5 tahun-2 tahun, sebanyak 5 orang. Selebihnya anak berusia belasan tahun atau masih duduk di bangku SD dan SMP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengungkapan berawal dari adanya laporan masyarakat bahwa di beberapa titik di Kota Medan terdapat pengemis yang menggunakan anak kecil. Setelah mendapat laporan itu, petugas langsung mengecek di lapangan, dan menemukan mereka di wilayah [Medan] Helvetia. Petugas juga mengamankan lima orang dewasa," kata Kombes Dadang, Kamis (19/9).
Ilustrasi pengemis. (AFP PHOTO / ROMEO GACAD) |
"Penghasilan mereka dari mengemis di jalanan ini bisa mencapai Rp50.000 per hari. Ini tidak bisa dibiarkan. Jadi ini harus diprioritaskan untuk menjadikan Kota Medan tidak ada pengemis yang mengeksploitasi anak untuk meminta-minta, terutama anak di bawah lima tahun," jelasnya.
Menurutnya, solusi yang bisa dilakukan agar tidak ada lagi anak-anak yang mengemis di jalanan yakni dengan mendatangi rumah mereka untuk mengetahui bagaimana lingkungan tempat tinggal mereka.
Apabila mereka tidak mengindahkan program tersebut, Dadang menyebut ada upaya lain yang lebih tegas untuk menyelamatkan anak-anak tersebut agar ditanggung oleh negara.
"Karena kalau orang tuanya tidak bertanggung jawab atau kalau ini terkoordinir bisa dikenakan trafficking ini person. Upayanya dari soft sampai hard untuk menjaga anak-anak ini tidak dimanfaatkan oleh orang-orang yang lebih tua, meskipun orangtuanya. Ini kita masih dalami. Ini masih berkisar keluarganya," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Medan, Endar S. Lubis mengatakan, dari pemeriksaan sementara secara lisan, anak-anak ini tinggal di Jalan Padang, Kelurahan Banten, Kecamatan Medan Tembung. Pihaknya pun sudah melakukan penilaian dan akan dilanjutkan dengan kunjungan keluarga.
"Apakah termasuk orangtua bertanggung jawab atau tidak? Kalau tidak, akan kita angkat sebagai anak negara untuk dididik di panti yang menangani anak-anak terlantar," tegasnya.
"Misalnya dengan meningkatkan keterampilan yang menunjang perekonomian mereka. Kita data apakan mereka sudah terima program atau belum, misalnya Program Keluarga Harapan (PKH), BPJS, Kartu atau Kartu Pintar untuk anak-anaknya, akan kita cek," jelasnya.
[Gambas:Video CNN] (fnr/arh)
Ilustrasi pengemis. (