Massa diketahui mulai ramai mendatangi lokasi demo sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka berasal dari sejumlah elemen yang tergabung dalam Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak ketinggalan, massa membawa beragam spanduk berisi tulisan dalam beragam ukuran dan warna, misalnya, soal reforma agraria, penentangan terhadap RUU Pertanahan yang dinilai akan menggusur tanah masyarakat adat.
Massa bertopi caping berkumpul di seberang istana. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Presiden Jokowi tidak pernah memenuhi janji untuk menyejahterakan petani," cetus seorang orator demo.
"Sampai hari ini Nawa Cita itu duka cita untuk kita semua. Kita tidak ingin termakan janji-janji Jokowi peroode kedua. Karena kita sudah cukup dibohongi di periode pertama," ia menambahkan.
"Jokowi selalu membanggakan sertifikat padahal itu pembohongan publik. Jangan sampai jutaan petani turun ke ibu kota karena merasa tersakiti oleh janji-janji palsu pemerintah," ucapnya.
Pemerintah, kata dia, kerap menggusur masyarakat kecil demi kepentingan penanaman modal, seperti dalam industri pariwisata.
Massa menentang RUU Pertanahan yang mendiskriminasi masyarakat kecil. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Dikutip dari rilisnya, KNPA mengajukan tujuh tuntutan kepada Pemerintah dan DPR. Di antaranya, pertama, menolak RUU Pertanahan yang berwatak liberal yang mengutamakan penguasaan tanah untuk korporasi.
Kedua, penghentian pengggusuran paksa dan perampasan tanah rakyat oleh pemerintah dan korporasi. Ketiga, mendesak Jokowi melaksanakan reforma agraria secara nasional dan sistematis.
Keenam, mencabut izi konsesi perusahaan penyebab kebakaran hutan dan lahan. Ketujuh, menolak pengesahan RUU yang anti-kerakyatan, seperti RKUHP, RUU Minerba, RUU Perkelapasawitan, dan RUU Ketenagakerjaan.
[Gambas:Video CNN] (tst/arh)
Massa bertopi caping berkumpul di seberang istana. (
Massa menentang RUU Pertanahan yang mendiskriminasi masyarakat kecil. (