"Jumlah korban 26 orang, itu 22 itu adalah masyarakat Papua pendatang. Sementara warga Papua asli ada empat orang yang meninggal dunia," kata Tito di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Selasa (24/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah yang terluka tercatat 66 orang. Tito mengatakan terhadap mereka yang terluka, pemerintah akan memberikan perawatan dan mempermudah pemakaman bagi yang meninggal dunia.
Tito menjelaskan ihwal kerusuhan di Wamena. Dia bilang kerusuhan dipicu oleh kabar yang belum jelas dari SMA PGRI. Di sekolah itu disebut Tito ada seorang guru sedang mengajar, lalu meminta muridnya tidak berkata keras. Namun yang didengar oleh para murid justru perkataan 'kera'.
"Mungkin tone di Papua berbeda dengan tempat lain. Nah itu terdengarnya S-nya agak lemah," ujar Tito.
Polisi masih menyelidiki kabar tersebut. Sebab, kata Tito, kabar tersebut disebar oleh kelompok yang berafiliasi dengan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan berkembang di masyarakat. Kelompok itu menyebar isu dengan mengenakan seragam SMA.
"Ada petugas cepat datang menenangkan mereka tapi massa sudah terlanjur besar sekitar 2.000 orang lebih langsung melakukan aksi anarki," ujarnya menambahkan.
[Gambas:Video CNN] (jps/wis)