"Kami melihat ada indikasi kelompok yang melakukan aksi ini yang semula murni dari mahasiswa ada pihak-pihak yang memanfaatkan mengambil momentum ini untuk agenda lain," ungkap dia, di kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Kamis (26/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini mirip pola [demo ricuh] 21-23 mei lalu; dimulai sore, sampai malam, dan ini cukup sitematis. Artinya ada pihak yang mengatur itu," cetus Tito.
Tito mengatakan pihaknya menangkap 200 orang dalam aksi demo ricuh itu. Mereka, ungkapnya, tak berstatus mahasiswa ataupun pelajar.
"Tapi masyarakat umum yang ketika [ditanya] untuk apa [ikut] aksi, tidak paham tentang RUU apa, tidak mengerti. Bahkan ada yang mereka mendapat bayaran.
Sebelumnya, mahasiswa berdemo di depan gedung DPR dengan tuntutan penolakan perundangan yang kontroversial, seperti RKUHP dan revisi UU KPK. Demo itu juga diikuti oleh para pelajar STM.
Kerusuhan dan pembakaran terjadi pada malam hari usai polisi mencoba membubarkan rangkaian demo itu.
[Gambas:Video CNN] (jps/arh)