Nurdiansyah mencontohkan, momen pengesahan Revisi Undang Undang KPK menjadi undang-undang. Dan tindak kekerasan polisi kepada mahasiswa saat menggelar demonstrasi sejak 19 September 2019.
"Ini merupakan September berdarah. Bulan ini merupakan kematian dari KPK, kematian dari teman-teman kami saat di medan juang, dan kebakaran hutan yang terus terjadi di Indonesia," kata Nurdiansyah saat menggelar aksi di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (1/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sindiran terhadap anggota DPR yang dilantik pagi ini pun sempat disampaikan oleh orator aksi di lokasi. Sindiran itu merujuk pada larangan menggelar demo saat acara pelantikan tadi pagi.
"Gedung DPR punya pejabat atau rakyat, tetapi rakyatnya mau datang terhalang," sindir seorang orator saat aksi di kolong jalan layang Senayan.
"Kenapa kami tidak bisa demonstrasi di depan gedung DPR, kata mereka kami, mahasiswa tidak santun," kata orator tersebut.
Rentetan demo masih terus berlanjut sejak aksi demonstrasi mahasiswa menolak sejumlah rancangan dan revisi undang-undang di penjuru Indonesia bergulir beberapa pekan ini.
Mabes Polri menyebut ada indikasi kuat aksi tersebut untuk menggagalkan pelantikan DPR, serta presiden dan wakil presiden.
Anggota DPR/MPR terpilih untuk periode 2019-2024 resmi dilantik di Gedung 'Kura-kura' komplek DPR/MPR pagi tadi. Sebanyak 16.400 personel Polri dan 7.800 personel TNI dikerahkan untuk mengamankan pelantikan tersebut.
Sedangkan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih dijadwalkan pada 20 Oktober.
Sehari sebelum pelantikan DPR/MPR aksi kerusuhan kembali terjadi di sekitar Gedung DPR/MPR. Aparat melepas tembakan gas air mata yang dibalas lemparan batu dari massa. (tst/wis)