Koordinator FAM, Firdaus Nuzula menjelaskan hingga saat ini, setidaknya terdapat 1.300 masyarakat Minang yang masih mengungsi di wilayah Papua akibat kerusuhan. Firdaus mengecam tindakan-tindakan di luar kemanusiaan yang terjadi di Papua selama ini.
"Kami meminta pemerintah menanggung seluruh kerugian materil dan imateril dari masyarakat Minangkabau di Papua," kata Firdaus kepada wartawan setelah melaksanakan salat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
FAM mengusung delapan tuntutan terhadap pemerintah dalam menanggapi kisruh masyarakat Minang di Papua yang telah memakan korban. Salah satu tuntutan itu adalah untuk mencabut gelar adat sako dari Gubernur Papua Lucas Enembe dan juga Kapolri Tito Karnavian.
[Gambas:Video CNN]
Dari sejumlah kabar yang dihimpun, sebanyak 10 perantau Minang meninggal dalam kerusuhan di Wamena. Delapan jenazah dipulangkan ke kampung halaman dan dua jenazah dimakamkan di Papua.
Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit telah mengunjungi Sentani, menengok ribuan warga Sumbar yang diungsikan. Nasrul mengakui meski Wamena mulai kondusif, namun trauma masih tersisa bagi para perantau.
Kerusuhan di Wamena, Papua. (AP Photo) |
"Jangan salah pengertian bahwa kedatangan saya mau bawa warga Sumatra. Tidak begitu, kita ini NKRI, kami punya etika juga antar-pemerintah provinsi dan kabupaten/kota," katanya, beberapa waktu lalu.
Terpisah, Presiden Joko Widodo justru mengambil sikap untuk tidak membawa persoalan rusuh di Wamena sebagai konflik horisontal, antarsuku dan etnis. Jokowi menyebut kerusuhan di Wamena dipicu provokasi kelompok separatis.
"Jadi jangan ada yang menggeser-geser ini menjadi kaya sebuah konflik etnis, bukan. Ini adalah kelompok kriminal bersenjata yang dari atas, dari gunung turun ke bawah dan melakukan pembakaran-pembakaran rumah warga" kata Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (30/9).
Kerusuhan di Wamena, Papua. (AP Photo)