Moeldoko: Pemilu Usai, Buzzer-buzzer Harus Ditinggalkan

CNN Indonesia | Kamis, 03/10/2019 18:37 WIB
Moeldoko: Pemilu Usai, Buzzer-buzzer Harus Ditinggalkan Kepala Staf Presiden Moeldoko. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyebut para buzzer atau pendengung di media sosial pendukung Presiden Joko Widodo tak satu komando ketika melakukan aktivitas di media sosial. Mereka merupakan para relawan dan pendukung fanatik saat kontestasi Pilpres 2019 lalu.

"Jadi memang buzzer-buzzer yang ada itu tidak dalam satu komando, tidak dalam satu kendali. Jadi masing-masing punya inisitiaf," kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (3/10).

Kata Moeldoko, para buzzer tidak ingin idolanya diserang, dan disakiti.


"Akhirnya masing-masing bereaksi. Ini memang persoalan kita semua, juga kedua belah pihak," ujarnya.
Moeldoko mengatakan perlu kesadaran bersama untuk menurunkan tensi. Mantan Panglima TNI itu mengajak semua pihak untuk menata ulang kembali cara berkomunikasi, khususnya di media sosial.

Moeldoko pun berpendapat bahwa 'buzzer' tersebut harus ditinggalkan karena pesta demokrasi lima tahunan ini sudah selesai. Bahkan, ia mengaku terkadang bahasa yang dipakai 'buzzer' tak enak untuk didengar.



"Menurut saya sih buzzer-buzzer itu harus ditinggalkan, Pemilu juga sudah selesai. Jadi (pakai) bahasa-bahasa persaudaraan, kritik sih kritik tapi harus dengan bahasa-bahasa yang, kadang-kadang enggak enak juga didengar," ujarnya.
[Gambas:Video CNN]
Pensiunan jenderal bintang empat itu mengaku sudah meminta para relawan atau pendukung fanatik Jokowi bersifat lebih dewasa dan tak emosional ketika merespons sesuatu hal. Namun, kata Moeldoko, terkadang sulit dipraktikkan karena sudah terpolarisasi sejak Pilpres lalu.

"Jadi perlu memang masing-masing menyadari lah bagaimana membangun lagi situasi yang enjoy. Jangan politik diwarnai dengan tegang, politik diwarnai dengan saling menyakiti. Menurut saya enggak pas," tuturnya.

Moeldoko membantah KSP yang menjadi komando para buzzer Jokowi. Justru, kata Moeldoko, pihaknya yang melarang para buzzer.

"Sama sekali tidak, justru kita KSP itu mengimbau 'sudah kita jangan lagi seperti itu'. Beberapa kali saya sudah ngomong kan," ujarnya.

Persoalan buzzer Jokowi ini mencuat setelah sejumlah akun Twitter, yang kerap menulis dukungan atas kerja Jokowi maupun pemerintah, mengunggah tangkapan layar grup WhatsApp anak STM yang disebut ikut demo beberapa hari lalu.

Sejumlah akun yang mengunggah tangkapan layar grup WhatsApp anak STM itu antara lain, @TheREAL_Abi, dan  @OneMurtadha. Namun ketiga akun tersebut sudah menghapus unggahannya setelah para pengguna Twitter lainnya mengkritisi isi tangkap layar tersebut.
(fra/ugo)