Relawan Jokowi: Ninoy Diteriaki Penyusup dan Diancam Dibunuh

CNN Indonesia | Minggu, 06/10/2019 22:59 WIB
Relawan Jokowi: Ninoy Diteriaki Penyusup dan Diancam Dibunuh Demonstrasi berujung kerusuhan beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Relawan Jokowi, Jack Boyd Lapian membeberkan kronologi dugaan penculikan hingga penganiayaan yang menimpa rekannya, Ninoy Karundeng saat demonstrasi berujung kerusuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Senin (30/9). Ia mengaku kronologi dugaan pidana itu berdasarkan pengakuan langsung Ninoy kepada dirinya.

Jack mengatakan kekerasan terjadi saat Ninoy mengambil foto korban gas air mata saat demonstrasi di dekat Masjid Al-Falah, Pejompongan, Bendungan Hilir. Ia berkata seseorang dari kerumunan masa di lokasi itu menanyakan asal tempat tinggal Ninoy.

"Orang tersebut lantas memeriksa hape milik Ninoy yang kebetulan Facebook dia terbuka, ada artikel Abdul Basith. Serta-merta dia diteriaki sebagai penyusup, intel, musuh, polisi, dan cepu," ujar Jack dalam keterangan tertulis, Minggu (6/10).


"Dia dipukuli beramai-ramai dan ditarik ke dalam masjid Al Falah," ujarnya.

Saat berada di dalam masjid, Jack menuturkan Ninoy sempat diinterogasi oleh salah seorang yang menggunakan seragam medis. Tas jinjing, ransel, dan dua telepon genggam milik Ninoy pun diperiksa saat itu. Ia juga berkata satu unit telepon genggam milik Ninoy juga diambil saat ditarik ke dalam mesjid.
Kepada orang-orang yang menginterogasi, Jack mengatakan Ninoy mengaku hendak meliput demonstrasi. Karena tidak percaya, ia berkata Ninoy malah dimarahi dan dipukuli usai memberi juga terus memukuli dan menanyakan siapa pihak yang mengirim Ninoy.

"Ninoy menjawab tidak ada yang mengirim, independen," ujar Jack.

Saat penganiayaan berlangsung, Jack menceritakan salah seorang yang ikut menginterogasi menemukan kartu pers relawan JokowiApp. Saat itu pula Ninoy kembali menerima pukulan secara bertubi-tubi.

Adapun petugas medis di lokasi, kata Jack, memerintahkan untuk menghapus data yang ada di telepon genggam, serta memerintahkan memeriksa data yang ada di dalam laptop milik Ninoy.

"Serta-merta dilihat informasi tentang tulisan politik mendukung Jokowi. Mereka marah-marah dan memukuli beramai-ramai. Di sela-sela interogasi ada beberapa orang yang memberikan obat untuk menghentikan pendarahan di mulut Ninoy. Ninoy juga diberi roti dan air," ujarnya.

Lebih lanjut, Jack menyampaikan Ninoy sempat beberapa kali meminta dipulangkan usai mengalami penganiayaan. Akan tetapi, petugas medis melarang dengan alasan tidak dapat menjamin keselamatan Ninoy jika keluar dari masjid Al-Falah.

"Berkali-kali banyak rombongan orang-orang datang dan menginterogasi Ninoy dan memukuli bertubi-tubi," ujar Jack.

Diancam Dibunuh 'Habib'

Jack mengatakan penganiayaan terhadap Ninoy terus berlangsung hingga kedatangan seseorang yang dipanggil dengan sapaan 'habib' ke Masjid Al-Falah, Selasa, sekitar pukul 03.00 WIB. Ia berkata 'habib' itu menginterogasi dan memukul Ninoy berulang kali.

"Dia terus menginterogasi dan meminta Ninoy untuk bertobat, Ninoy disuruh salat," ujar Jack.
Singkat cerita, Jack membeberkan 'habib' itu memerintahkan kepada petugas medis untuk menyediakan ambulan yang akan digunakan mengangkut mayat Ninoy untuk keluar dari masjid. Saat itu, ia berkata timbul perdebatan di antara orang-orang yang berada di dalam masjid tersebut.

"Seorang yang dipanggil oleh orang-orang di dalam masjid Al Falah sebagai Habib tersebut memerintahkan kepada orang medis untuk menyediakan ambulans, untuk mengangkut mayat Ninoy yang akan dibawa keluar dari masjid," ujarnya.

Sebagian besar para terduga pelaku penganiayaan sepakat Ninoy harus dibunuh. Sebab jika Ninoy tidak dibunuh dikhawatirkan akan melaporkan ke Polisi. Bahkan, darah Ninoy dianggap halal.

Mereka, kata Jack, juga sempat menanyakan apakah Ninoy bagian dari kelompok Denny Siregar, Eko Kuntadi, Abu Janda, Kajitow Elkayani, Manuel Mawengkang, Ni Luh Jelantik, dan lainnya.

"Ninoy dalam sekapan para pelaku pasrah menunggu eksekusi dan tidur. Ninoy berkali-kali memohon kepada ibu-ibu dan orang-orang di sana untuk tidak dibunuh," ujar Jack.

Jack mengklaim Ninoy mengaku akan dibunuh dengan cara dibacok di bagian kepala setelah salat subuh. Bahkan, ia menyebut Ninoy melihat sebuah kapak yang disediakan untuk melakukan eksekusi.
Akan tetapi eksekusi terhadap Ninoy tidak terjadi karena hingga pagi ambulans yang diminta oleh sang 'habib' tak kunjung datang. Sebelum itu, lanjut Jack, istri seorang tim medis juga menyampaikan agar Ninoy bertobat serta menyerahkan hidup dan mati di tangan Allah SWT.

"Karena ambulans tidak datang, maka timbul kesulitan untuk mengeluarkan Ninoy dari dalam masjid Al Falah. Orang-orang yang ada di dalam masjid lalu merundingkan untuk melepaskan Ninoy," ujarnya.

Sebelum dilepas, Jack menyebut Ninoy diminta untuk tidak melapor Polisi. Jika melaporkan, Ninoy akan dibunuh. Beberapa orang di lokasi juga meminta alamat dan KTP Ninoy untuk difoto sebagai barang bukti.

"Selain itu juga disuruh untuk membuat surat pernyataan untuk ikhlas dan pemukulan-pemukulan sebagai akibat dari kesalahpahaman," ujar Jack.

[Gambas:Video CNN]
Selain pernyataan tertulis, Jack menuturkan Ninoy juga diminta di depan kamera untuk membuat pengakuan dan berjanji kepada Allah SWT di bawah sumpah agar tidak melaporkan kejadian yang menimpanya ke pihak mana pun termasuk polisi.

Setelah hal itu dipenuhi, Jack membenarkan Ninoy dilepas. Akan tetapi Ninoy dipulangkan bersama motornya dengan Go Box sekitar pukul 07.00 WIB. Kartu SIM telepon genggam dan hard disk milik Ninoy juga diambil oleh orang yang memesan Go Box tersebut.

"Beberapa jam berikutnya viral video pengeroyokan yang beredar luas di internet yang dilakukan oleh salah satu dari yang menginterogasi dan mengancam untuk membunuh Ninoy," ujarnya. (jps/osc)