Hal ini terkait dengan desain yang lebih jelas dari SBY yang berlatar belakang militer soal penguatan TNI ketimbang Jokowi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal pertama yang jadi sorotan Setara adalah desain anggaran militer. Pada era SBY, postur anggaran untuk pengadaan alutsista berada satu tingkat di bawah gaji.
Klaim itu sebanding dengan catatan Imparsial beberapa waktu lalu yang menyebut bahwa pada SBY mengalokasikan anggaran modal untuk alutsista sebesar Rp25,7 triliun pada 2013. Angka itu berada di bawah anggaran rutin gaji sebesar Rp33,5 triliun.
Sementara pada masa Jokowi, belanja modal hanya mencapai Rp33,4 triliun pada 2017 dan anjlok ke angka Rp19,1 triliun pada 2018.
Hal lain yang jadi kekurangan Jokowi dalam urusan militer, lanjutnya, adalah pengoordinasian TNI dalam penanganan isu besar seperti Papua. SBY, kata Ismail, langsung menerjunkan utusan presiden ke Papua saat terjadi konflik.
"Kita lihat aktor utama di Papua ini bukan presiden, bukan pemerintahan sipil, tapi tentara dan polisi. Ini menggambarkan bukan Pak Jokowi sangat percaya dengan tentara, tapi Pak Jokowi tidak punya leadership dalam konteks isu pertahanan dan keamanan," ucap Ismail.
(dhf/arh)