"Dia (Surya) ingin dipindahkan dari Mako Brimob ke Polda. Itu pun kalau proses lama, minta tolong lah minta jangan lagi di sel isolasi ini," kata kuasa hukum Surya Anta, Michael Himan, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (9/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini yang membuat terganggu juga kesehatan kalau seandainya enggak bisa di (tahan di) Polda samakan saja dengan kelima tahanan lainnya," lanjut dia.
Mako Brimob Depok. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Kondisi kesehatannya masih dalam tahap pemulihan. Kemarin Surya diantar dari penyidik rumah sakit dan mereka itu sekitar jam 09.30 dibawa ke RS Brimob," jelas dia.
Sebelumnya, pengacara Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Nelson Simamora menyebut Surya Anta sakit pada telinga sebelah kanan hingga tak bisa mendengar. Berdasarkan penuturan Nelson, Surya merasakan sakit sejak beberapa waktu yang lalu. Dokter yang bertugas di Mako Brimob sendiri sudah tidak bisa dihubungi petugas.
Diketahui sebelumnya, Surya Anta diamankan polisi karena diduga terlibat pengibaran bendera Bintang Kejora pada aksi unjuk rasa di seberang Istana Presiden, Jakarta (29/8).
Tak sendiri, ia ditangkap bersama lima rekannya yang kini turut di tahan di Rumah Tahanan Markas Korps Brimob Polri, Depok. Ia diduga melakukan makar sesuai dengan Pasal 106 dan 110 KUHP.
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kobes Argo Yuwono mengklaim ruang tahanan yang ditempati Surya Anta dan lima mahasiswa Papua tersangka kasus makar di Mako Brimob sudah memadai. Bahkan, menurutnya itu lebih baik dibanding ruang tahanan di Polda Metro Jaya.
"Kalau dibandingkan tahanan Polda Metro ya, di sini satu kamar satu orang ya. Di Polda Metro, satu kamar bisa 15 orang, 20 orang," tutur Argo di Mako Brimob, Jumat (20/9).
Dia mengatakan ruang tahanan itu berukuran 7x5 meter plus kamar mandi di dalamnya. Surya Anta dan mahasiswa Papua juga diberikan kasur serta buku-buku bacaan serta kitab suci.
"Memang tahanan selnya ini sudah bagus ini," tegas Argo.
(ctr/arh)
Mako Brimob Depok. (