Kakak perempuan Akbar, Fitri Rahmayani (25) menyebut kondisi Akbar sebelum meninggal sangat memprihatinkan. Ia mengatakan Akbar mengalami banyak luka di area kepala.
"Enggak bisa dikenali. Mama sih yang lihat (di RS Polri), aku lihat di RSPAD," ujar Fitri kepada wartawan setelah pemakaman Akbar di TPU belakang Seskoal, Cipulir, Jakarta, Jumat (11/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fitri pun menggambarkan kondisi Akbar, anak kedua di keluarganya. Terdapat pembengkakan besar di kepalanya membuat Akbar susah dikenali. Bahkan terdapat bekas jahitan di mulut yang menurutnya tidak pernah ada sebelumnya.
"Jadi kepalanya besar seperti pakai helm, kayak semacam tumor kepala. Gede lebam bibirnya sampai menutupi lubang hidung saking keluarnya, jontor," kata Fitri.
"Dari (RS) Polri tanggal 30 sampai sekarang pun menurun turun terus enggak ada perkembangan," tambahnya.
Ketika diajak bicara pun Akbar tidak bisa merespons dengan baik. Dia hanya bisa menggerakkan jari tangan dengan pelan ketika diajak bicara di RS Polri.
"Bibirnya kayak orang mau getar gitu, mata keadaan tutup. Tangannya sempet gerak cuma [itu] responsnya di RS Polri," kata dia.
Keluarga dan kerabat menghadiri prosesi pemakaman korban demo ricuh Akbar Alamsyah di TPU kawasan Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta, Jumat (11/10/2019). (ANTARA FOTO/Galih Pradipta) |
"Dokter tidak ada yang berani langsung ngomong penyebab luka wajah tersebut. Tidak ada yang bilang jatuh atau apa," jelasnya.
Fitri pun mengetahui kabar Akbar dirawat di RS Polri bukan dari pihak kepolisian. Ia mengaku mengetahuinya dari orang lain.
"Enggak, kita cari sendiri dari info sana-sini broadcast," tuturnya.
Setelah beberapa hari kritis, dokter kemudian baru menyampaikan Akbar telah meninggal dunia pada Kamis (10/10) sore. Menurut keluarga, dokter mengatakan Akbar meninggal karena ada saraf yang rusak.
"Jadi kemarin ya, dokter manggil terus. 'Nih Akbar kondisinya menurun, menurun, tensinya rendah'. Memang dari kemarin sih rendah (tensinya)," imbuhnya.
"Saraf sih, sarafnya rusak kata dokter," tambahnya.
Kendati demikian, pihak keluarga pun belum menerangkan dengan rinci serta memeriksa alasan kematian yang tertera dalam surat kematian yang dibuat dokter.
"Saya tidak tahu ya kemarin surat apa saja," jelasnya.
Akbar Alamsyah sempat hilang usai kerusuhan di Gedung MPR/DPR RI pada 25 September 2019 meninggal dunia di RSPAD, Jakarta.
Keluarga menemukan Akbar sudah dalam keadaan kritis beberapa waktu setelahnya. Ia pun akhirnya dilarikan ke RSPAS Gatot Soebroto untuk perawatan.
[Gambas:Video CNN] (mjo/pmg)
