Cinta segitiga ini kata dia, terjadi antara Jokowi, poros Teuku Umar yakni PDI Perjuangan dan poros Gondangdia atau Partai NasDem.
"Saya menyebut penyusunan kabinet ini cinta segitiga antara Jokowi dengan poros Gondangdia, dan Poros Teuku Umar," kata Qodari di daerah Cikini, Menteng, Jakartq Pusat, Sabtu (12/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua poros ini memang memiliki pemikiran yang berbeda soal pemilihan partai di koalisi untuk masuk kabinet Jokowi. Dugaan dia, inilah yang membuat Jokowi nampak goyah dalam menentukan pilihan para pembantunya di kabinet mendatang.
Lihat juga:Demokrat Klaim AHY Bukan 'Balak Kosong' |
"Dari kacamata Pak Jokowi saya sekarang melihat koalisi baru 60 persen. Kalau 60 persen kan ada apa-apa nanti tinggal 50 persen, susah. Jadi mau tambah kursi partai menjadi 70 persen," katanya.
"Ini seperti periode pertama Jokowi maupun Pak SBY dua kali jadi presiden. Untuk diingat Pak SBY dua kali itu kursi partai yang dikuasai lewat kabinet itu sekitar 70 persen," kata dia.
Sinyal penolakan NasDem terhadap kehadiran Gerindra di koalisi diungkap Anggota Dewan Pakar Partai NasDem Taufiqulhadi.
Dia mengaku keberatan jika Gerindra ingin masuk dalam kabinet dengan menempati jabatan menteri urusan pangan dan energi. Dia pun tidak ingin Jokowi-Ma'ruf menerima konsep Gerindra soal swasembada pangan dan energi.
"Saya pikir, sudahlah bagi Gerindra untuk konsisten saja dalam konteks demokrasi kita, menjadi penyeimbang bagi pemerintah," ucap Taufiqulhadi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (9/10).
Gerindra diketahui mengajukan dua syarat jika Presiden Jokowi ingin mendapat dukungan. Pertama, Strategi Dorongan Besar soal swasembada pangan dan energi diterima. Kedua, menteri urusan pangan dan energi harus diberikan pada Gerindra.
(tst/ain)