Dalam keterangan tertulisnya, BMKG menyebut sumber dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Tanggal 14 Oktober 2019 tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80% yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyu Asin 1, Pampangan, Tulung Selapan, Pedamaran, Pemulutan, Cengal, Pematang Panggang dan Mesuji.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stasiun meteorologi itu mencatat angin permukaan umumnya umumnya dari arah Timur-Tenggara dengan kecepatan 5-20 Knot (9-37 Km/Jam) mengakibatkan potensi masuknya asap akibat karhutla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya.
Secara Regional, melemahnya Badai Tropis Hagibis di Laut Cina Selatan dan masih adanya pusat tekanan rendah di wilayah tersebut mengakibatkan adanya aliran massa udara ke arah pusat tekanan rendah tersebut dari wilayah Indonesia.
'Hal ini mengakibatkan tetap menurunnya potensi dan intensitas hujan di wilayah Sumsel 3 (tiga) hari ke depan (14-16 Oktober 2019). Kondisi angin timuran yang menuju pusat tekanan rendah di Samudera Hindia akan membawa uap air dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa menyebabkan potensi hujan di wilayah Sumsel bagian Barat-Utara (Kab. Musi Rawas, Kota Lubuk Linggau, Kab. Muba, Kab. Lahat, dan Kab. Muara Enim) pada tanggal 17-18 Oktober 2019,' demikian pernyataan BMKG Sumsel.
Sementara itu, secara lokal, BMKG pun memprediksi kondisi hujan akibat faktor awan konvektif akan tetap berpotensi di wilayah bagian barat Sumsel karena kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan.
'Biasanya hujan yang terjadi berlangsung sebentar, sporadis (berbeda tiap tempat) dan berpotensi petir disertai angin kencang,' demikian peringatan BMKG dalam pernyataan tersebut.
Sejumlah siswa SMP pulang lebih awal usai diumumkannya libur terkait kondisi kabut asap yang pekat di Palembang, Sumatera Selatan, 14 Oktober 2019. (ANTARA FOTO/Feny Selly) |
Amelia, warga Kelurahan Bukit Sangkal, Kecamatan Kalidoni, mengaku terkejut ketika ke luar rumah sekitar pukul 06.30 WIB. Dia saat itu bermaksud mengantar anaknya.
Namun, Amelia mendapati kabut demikian pekat. Bahkan, dia merasa jarak pandang hanya 10 meter.
"Saya terkejut, kenapa gelap ini. Kemarin-kemarin ada kabut asap, tapi tidak separah hari ini," tutur Amelia, Senin, seperti dilansir Antara.
Pada Jumat lalu (11/10), BPBD Sumsel sudah mendatangkan satu helikopter tambahan dari Riau. Dengan demikian, mereka kini memiliki 10 helikopter yang bisa dikerahkan untuk memadamkan karhutla.
"Kualitas udara di Palembang hari ini tergolong tidak sehat karena dicemari asap kiriman dari sejumlah kabupaten rawan Karhutla seperti Kabupaten Ogan Ilir, Banyuasin, dan Ogan Kemering Ilir," kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel Hairul Sobri, di Palembang, Senin.
[Gambas:Video CNN]
Kualitas udara sekarang ini, lanjut dia, tidak sehat menuju level berbahaya karena dicemari asap dari kebakaran hutan dan lahan. Kualitas udara di Ibu kota Provinsi Sumsel itu mencapai level hingga di atas 250 mikrogram/m3. Sesuai kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), jika kualitas udara berapa pada level 0-50 mikrogram/m3 dalam kondisi baik, sedangkan pada level 50-150 sedang, 150-250 tidak sehat, 250-350 sangat tidak sehat, dan pada level lebih dari 350 mikrogram/m3 berbahaya.
Berdasarkan fakta tersebut, pemerintah pusat dan daerah harus bertindak cepat menangani ancaman bahaya asap karhutla tersebut di Palembang.
