Menurut dari laporan petugas Kecamatan Siatas Barita, Tapanuli Utara, ternak Babi yang mati akibat virus kolera babi sudah mencapai 52 ekor.
Lihat juga:Antisipasi Wabah Penyakit Pascagempa |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita juga sudah melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk melaksanakan sanitasi dan desinfeksi kandang, tidak memotong ternak yang tertular, membawa ternak dari daerah tertular, serta mengubur ternak yang mati, bukan membuangnya ke sungai," tegasnya.
Pihaknya juga sudah membuat surat edaran ke seluruh Camat, Kepala Desa, serta Majelis Gereja untuk mengantisipasi meluasnya penularan virus ini. Dia mengimbau warga yang ternaknya mati agar dikubur, bukan dibuang sembarangan.
"Karena bangkai apapun kalau dibuang sembarangan bisa menimbulkan penyakit lain bagi manusia. Virus ini hanya menular pada babi, tidak menyerang manusia. Namun masyarakat diimbau untuk tidak makan daging babi yang terkena virus Hog Cholera," paparnya.
Kepala Desa Simorangkir, Hardi Saut Simorangkir, mengatakan salah satu daerah terparah yang terserang virus babi yakni berada di Desa Simorangkir Habinsaran, Kecamatan Siatas Barita, Taput. Setiap harinya, ada saja babi milik warga yang mati.
Menurut dia, masyarakat di sana sudah banyak yang mengeluh kepadanya. Sebab virus ini menyerang babi dengan cepat hingga babi di sana mati mendadak. Puluhan babi mati dalam dua pekan terakhir.
"Gejalanya babi itu gemetar lalu mati. Dalam dua pekan ini, ada 30 lebih kalau tidak salah tiba tiba mati diserang virus itu. Sejauh ini Pemkab Taput sudah datang memberikan vaksin," paparnya.
(arh/fnr/arh)