Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengatakan, keanggotaan di Dewan HAM PBB mestinya bisa menjadi momen untuk memperbaiki kondisi perlindungan HAM di Indonesia selama ini.
Ia menyebut banyaknya kasus pelanggaran HAM berat yang belum tuntas hingga kasus dugaan pelanggaran HAM di Papua yang terjadi belakangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih Jokowi-Ma'ruf Amin pada Minggu, 20 Oktober mendatang juga dapat menjadi momen bagi Jokowi untuk memprioritaskan upaya penyelesaian persoalan di Papua.
"Ini penting, apalagi momennya tepat. Hari Minggu, presiden dilantik. Saya kira Papua jadi prioritas pertama dari program presiden dan wapres untuk lima tahun mendatang," katanya seperti dikutip dari Antara.
Lihat juga:Papua, Momok Rezim Jokowi di Mata Dunia |
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengatakan, konflik yang terjadi di Papua menjadi permasalahan yang paling krusial dan harus segera diselesaikan. Dalam hal ini, Komnas HAM berperan memfasilitasi seluruh pihak untuk duduk bersama menyelesaikan persoalan di Papua.
[Gambas:Video CNN]
Terlebih Komnas HAM telah melakukan kunjungan langsung ke Papua pada 13-17 Oktober 2019 untuk melihat persoalan yang terjadi.
"Paling krusial adalah tentang Papua, itu kami sampaikan. Sampai hari ini pun terus menyampaikan," ucapnya.
Lihat juga:PR Mangkrak Pelanggaran HAM Masa Lalu |
Indonesia berhasil meraup suara terbanyak dibandingkan empat calon lainnya yakni Jepang, Korea Selatan, Marshall Islands, dan Irak yakni 174 dukungan dari 192 negara anggota PBB yang memilih.
Banyak pihak menyambut baik prestasi baru Indonesia di kancah dunia ini. Namun, tak sedikit pula yang skeptis melihat Indonesia kembali menjabat sebagai Dewan HAM PBB di tengah sorotan dunia terhadap situasi di Papua yang belakangan memanas.
Wakil Presiden Jusuf Kalla juga sempat mengingatkan agar pemerintah tetap menjaga HAM dalam negeri lebih baik. "Jangan kita anggota HAM, kemudian ada (pelanggaran) HAM dalam negeri," tuturnya. (psp/osc)