Markus telah sengaja mencegah atau merintangi secara tidak langsung pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap saksi Miryam S Haryani dan terdakwa Sugiharto dalam perkara proyek e-KTP.
"Menuntut terdakwa bersalah melakukan tindak pidana merintangi secara tidak langsung pemeriksaan di sidang pengadilan perkara korupsi sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 21 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," ucap Jaksa Andhi Kurniawan saat membacakan amar tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (28/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jaksa menilai Markus terbukti melanggar Pasal 3 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Selain itu, Jaksa juga menuntut pencabutan hak politik selama lima tahun terhitung saat terpidana Markus selesai menjalani pemidanaan. Pencabutan ini, menurut jaksa, supaya memberi efek jera terhadap Markus selaku penyelenggara negara.
[Gambas:Video CNN]
Markus juga dituntut membayar uang pengganti sejumlah US$900 ribu selambat-lambatnya satu bulan setelah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap. Jika dalam jangka waktu tersebut Markus tidak membayar uang pengganti, kata Jaksa, maka harta-bendanya disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.
"Jika dalam hal terdakwa tidak punya harta-benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka dipidana penjara selama 3 tahun," tutur jaksa.
"Hal yang meringankan adalah terdakwa bersikap sopan selama persidangan," sambung Jaksa.
Usai menjalani sidang, Markus dan penasihat hukumnya akan mengajukan nota pembelaan atau pleidoi. Pleidoi akan dibacakan pada Senin, 4 November 2019.
"Kita dari awal tidak pernah tahu uang apa yang diberikan, berapa jumlahnya, dollarnya Singapura atau Amerika, tidak jelas dalam persidangan," kata Markus.
"Kita didakwa Pasal 21. Yang bersangkutan [Miryam S. Haryani] tidak pernah ditekan oleh saya. Malah dalam persidangan, Novel [Baswedan] itu yang menekan si Miryam, sampai pada hari persidangan Miryam sebelum ia mencabut [BAP-nya], Novel bersama dua jaksa mendatangi rumahnya," ujarnya lagi. (ryn/osc)