Oded tak merinci data tersebut. Dia hanya mengatakan ada pelajar level SD yang juga sudah terpapar paham radikal.
"Ada 600 anak. Ada SMP, bahkan katanya SD juga, di Kota Bandung," kata Oded di Pendopo Kota Bandung, mengutip Antara, Selasa (29/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oded lantas mengimbau orang tua, guru, dan kepal sekolah di Kota Bandung untuk meningkatkan pengawasan. Menurutnya itu perlu dilakukan demi mencegah para pelajar terpapar paham radikal.
"Terutama kepada orang tua dan para kepala sekolah dan guru jangan sampai anak-anak itu jadi korban," kata dia.
Tak hanya di level Kota Bandung, pemerintah pusat juga kerap kali mengatakan soal bahaya radikalisme.
Respons GP Ansor
Gerakan Pemuda Ansor menilai Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin serius ingin berupaya menangkal radikalisme dalam pembentukan Kabinet Indonesia Maju.
[Gambas:Video CNN]
Menurutnya, pemberian tugas khusus kepada Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD, Menteri Agama Fachrul Razi, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, serta Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memperlihatkan bahwa pemerintahan Jokowi lima tahun ke depan serius ingin mengatasi perkembangan radikalisme di Indonesia.
"Ini terlihat dengan ditugaskannya secara khusus Menko Polhukam, Menhan, Mendagri dan Menag untuk ikut menangani masalah radikalisme di masyarakat, khususnya di lingkup kementerian masing-masing," kata sosok yang akrab disapa Gus Yaqut itu lewat keterangan tertulis, Jumat (25/10).
GP Ansor, lanjut Yaqut, akan merespons keseriusan pemerintah menghadapi radikalisme dengan menggelar rapat koordinasi nasional (Rakornas) dalam waktu dekat. Rakornas akan diisi dengan konsolidasi, penguatan kaderisasi, dan kemandirian organisasi.
"Saya meminta kini saatnya kembali melakukan konsolidasi, kaderisasi, dan mempercepat kemandirian organisasi," ucap dia.