Hal itu ia ungkapkan saat dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (6/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa saya? karena lucu sekali, karena saya juga mempertanyakan juga pada Pak Jokowi waktu beliau meminta, 'Bapak kenapa saya? Yakin?" selorohnya.
Presiden Jokowi mengisi sejumlah pos menteri dengan sosok di luar kebiasaan sebelumnya, seperti Mendikbud diisi bukan orang Muhammadiyah, dan Menag, bukan dari Nahdlatul Ulama. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan) |
Meski pembicaraan itu cenderung membahas tentang teknologi, Nadiem mengatakan kesimpulannya tetap pada pengembangan SDM yang mumpuni, yang merupakan faktor penting penggerak inovasi.
"Saya sadar bahwa apa yang bisa kami lakukan di dalam perusahaan saya sebelumnya, dan di seluruh sektor teknologi di Indonesia yang luar biasa perkembangannya, itu sebenarnya bukan teknologi, tapi SDM yang mendukung inovasi itu," kata dia.
Setali tiga uang, Nadiem mengatakan dirinya berencana akan membuka 'keran' potensi para pemuda-pemudi Indonesia agar lebih unggul dan inovatif ke depannya.
"Karena bidang saya kerjaannya melakukan inovasi, ya bisa dibilang sehari-hari saya ciptakan ruangan kerja sifatnya inovatif," kata dia, yang merupakan lulusan Harvard Business School itu.
[Gambas:Video CNN]
Ia pun tak ambil pusing dengan kritikan orang lain yang mennaggap dirinya tak mumpuni menangani bidang pendidikan Indonesia. Justru sebaliknya, Nadiem mengaku akan menerima tantangan tersebut meski dinilai orang lain mustahil untuk dilakukannya.
"Secara pribadi saya suka hal rumit dan sulit, banyak orang bilang 'wah enggak mungkin dilakukan', saya paling senang dengar itu. Sebelum membangun perusahaan saya, saya juga dibilang gitu, 'Ini apa? Enggak mungkin', 'terlalu sulit', tapi itu jadi energi buat saya," tuturnya.
Sekolah Lokal
Tak hanya itu, Nadiem pun mengklarifikasi kabar yang menganggap dirinya tak pernah merasakan bangku sekolah di Indonesia. Saat bangku sekolah dasar, ia mengaku sempat mengenyam pendidikan di SD Al Azhar Pondok Labu.
Sebelumnya, Fahmi Salim, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, mengatakan pemilihan Nadiem sebagai Mendikbud seolah ingin melupakan sejarah bangsa sekaligus terkesan menganggap sumbangsih Muhammadiyah tidak ada apa-apanya dibandingkan Gojek.
Selain itu, sejumlah pihak menyoroti latar belakang Nadiem yang tak pernah mengenyam pendidikan di dalam negeri.
(rzr/arh)
Presiden Jokowi mengisi sejumlah pos menteri dengan sosok di luar kebiasaan sebelumnya, seperti Mendikbud diisi bukan orang Muhammadiyah, dan Menag, bukan dari Nahdlatul Ulama. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)