Fachrul mengatakan itu saat memberi pembekalan bagi peserta Kemah Pemuda Lintas Paham Keagamaan Islam di Hotel Aryaduta, Tangerang Selatan, Rabu (6/11).
"Kita bicara dari aspek agama, bahwa keyakinan bukan sebuah hal yang radikal. Kalau dia menjelek-jelekan agama lain, mengafir-ngafirkan, nah baru itu disebut radikal," imbuhnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi, Fachrul tidak menganggap orang yang memahami agama secara mendalam sama dengan kelompok radikal. Menurutnya, itu berbeda.
"Ini luar biasa dan betul-betul. Kalau orang takwanya tinggi tentu tidak akan begitu," ucapnya.
Ini bukan kali pertama Fachrul bicara soal radikalisme. Sejak dilantik Presiden Jokowi pada 23 Oktober 2019, Fachrul kerap kali menekankan bahaya radikalisme berbasis agama.
Fachrul bahkan sempat mewacanakan penataran bagi para pendakwah. Ia berpendapat saat ini radikalisme, khususnya paham khilafah, sudah mulai menyebar lewat mimbar-mimbar masjid.
"Memang kita pasti dalam waktu dekat akan segera melakukan semacam penataran penceramah, ustaz. Bagi yang mau, yang enggak mau ya enggak apa-apa, silakan, kita enggak maksa," kata Fachrul dalam Lokakarya Peningkatan Peran dan Fungsi Imam Tetap Masjid di Jakarta, Rabu (30/10).
Dia juga sempat menyinggung gaya berpakaian yang berkaitan dengan gerakan radikal. Fachrul sempat menyampaikan rencana membuat aturan pelarangan menggunakan cadar dan celana cingkrang bagi PNS di instansi pemerintah.
"Memang nantinya bisa saja ada langkah-langkah lebih jauh, tapi kita tidak melarang niqab, tapi melarang untuk masuk instansi-instansi pemerintah, demi alasan keamanan. Apalagi kejadian Pak Wiranto yang lalu," kata Fachrul dalam Lokakarya Peningkatan Peran dan Fungsi Imam Tetap Masjid di Hotel Best Western, Jakarta, Rabu (30/10).
Rencana-rencana Fachrul itu menuai polemik. Ada yang setuju. Ada pula yang tidak. Hingga kemudian, Fachrul meminta maaf lantaran telah membuat gaduh akibat pernyataannya.
(dhf/asa)