Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto membeberkan sejumlah kerugian dan kekurangan dalam pilkada secara langsung yang telah dimulai sejak 2005. Mulai dari biaya yang mahal hingga pemenang hanya dari kalangan tertentu saja.
"Pemilu langsung selama ini selain berbiaya mahal, memunculkan oligarki baru. Kaum pemegang modal dan yang memiliki akses media yang luas, serta mereka yang mampu melakukan mobilisasi sumber dayalah yang berpeluang terpilih," kata Hasto dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (8/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sistem politik, sistem kepartaian, dan sistem pemilu harus senafas dengan demokrasi Pancasila yang mengandung elemen pokok perwakilan, gotong royong, dan musyawarah," ucap Hasto.
Proses itu, lanjutnya, menerapkan musyawarah tanpa pemungutan suara dan berhasil meningkatkan kualitas pemimpin di PDIP.
"Hasilnya, kualitas kepemimpinan partai di semua tingkatan meningkat, berbiaya sangat murah, dan minim konflik. PDIP menegaskan sebagai partai dengan biaya paling kompetitif dan efektif di dalam melakukan konsolidasi struktural partai," ucap Hasto.
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, Tito berkata bahwa diperlukan survei dan riset akademik untuk mengetahui sisi positif dan negatif terkait penyelenggaraan pilkada di Indonesia.
"Kalau [pilkada langsung] dianggap positif, fine. Tapi bagaimana mengurangi dampak negatifnya? Politik biaya tinggi, bayangin," kata Tito kepada wartawan usai mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi II DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Rabu (6/11).
"Apa benar, 'Saya ingin mengabdi kepada nusa dan bangsa, terus rugi'? Bullshit [omong kosong], saya enggak percaya," kata Tito. (mts/osc)