"Tidak harus terjun ke medan perang dengan angkat senjata. Siapa saja bisa jadi pahlawan dengan catatan nilai-nilai kepahlawanan tersebut terimplementasi secara nyata dan terwujud dalam tindakan sehari-hari," ungkap Khofifah dalam upacara Peringatan Hari Pahlawan di lapangan Tugu Pahlawan Surabaya, Minggu (10/11).
Khofifah menyebut makna kepahlawanan zaman dulu adalah berperang melawan penjajah atau memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Tantangan yang dihadapi terpampang nyata yaitu penjajahan dari bangsa lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Musuh kita saat ini adalah kemiskinan, kesenjangan sosial, kebodohan, kerusakan lingkungan, dan pengangguran. Belum lagi ditambah narkoba, trafficking, radikalisme, terorisme, KKN dan lain sebagainya. Inilah medan juang kekinian dan kita harus bersama-sama memeranginya," ujarnya.
Dalam upacara peringatan Hari Pahlawan 10 November tersebut Khofifah juga bersilaturahmi dengan para veteran, perintis kemerdekaan, serta keluarga pahlawan serta memberikan santunan dan bingkisan khusus.
Sebelumnya, Gubernur Khofifah juga memimpin apel kehormatan dan renungan suci (AKRS) dalam rangka Hari Pahlawan 10 November di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa Surabaya, tepat pukul 00.00 WIB, Minggu dini hari.
Saat pembacaan Naskah AKRS, Khofifah sapaan akrab Gubernur Jatim mengajak para peserta apel untuk memberikan penghormatan sebesar-besarnya pada para kusuma bangsa yang bersemayam di TMP Sepuluh Nopember.
Sebanyak 3.376 TNI, Polri, dan ASN serta pejuang dan 53 Pahlawan tidak dikenal dimakamkan di TMP Sepuluh Nopember.