Pencegahan terkait aksi-aksi terorisme, kata Mahfud, sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah dan aparat penegak hukum. Hal ini bisa dibuktikan dengan kuantitas aksi teror yang berkurang beberapa tahun belakangan.
"Pemerintah sudah melihat dengan baik, kalau ndak kan lebih banyak lagi. Ya kata saya tadi, kuantitasnya kurang. Begini loh, kepada masyarakat juga jangan selalu nyinyir," kata Mahfud di Gedung SICC, Sentul, Bogor, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah bertindak disebut melanggar HAM, pemerintah enggak bertindak disebut kecolongan. Begitu saja. Kita sama-sama dewasa menjaga negara ini," kata Mahfud.
Lagi pula kata dia, selama ini pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya penindakan terhadap aksi-aksi terorisme tersebut.
Jika memang tak ada pencegahan, kata Mahfud, sudah tentu aksi terorisme akan lebih banyak lagi di Indonesia.
"Nanti itu sudah ada polisi lah. Pencegahan sudah kita lakukan. Ada intelijen, informasi. Kalau tak ada pencegahan, makin banyak kayak gini," jelasnya.
Dia pun membantah jika pemerintah kembali kecolongan lantaran aksi terorisme kembali terjadi setelah sebelumnya sempat terjadi aksi penyerangan berupa penusukan terhadap Menko Polhukam sebelumnya, Wiranto.
"Enggak lah. Memang teroris itu selalu nyolong. Ya ndak apa-apa. Istilah kecolongan lalu dipolitisir lagi. Pokoknya ditindak," katanya.
[Gambas:Video CNN] (tst/pmg)