Pada survey Juli 2018 sebelum pilpres, hasil survei LSI Denny JA mencatat publik yang percaya presiden bekerja untuk kepentingan rakyat sebesar 81.5 persen. Kepercayaan itu melorot setelah pilpres menjadi 75,2 persen, berdasarkan survei September 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab lain penurunan adalah beberapa kebijakan Jokowi yang dianggap tak menguntungkan publik. Salah satunya soal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun LSI Denny JA menekankan bahwa elemen ini hanya variabel kecil.
Gelombang protes mahasiswa bersama koalisi masyarakat sipil terhadap Presiden Jokowi sempat terjadi pada September hingga awal Oktober. Salah satu sebabnya adalah beberapa regulasi yang dianggap bermasalah.
Peneliti senior LSI Denny JA, Adjie Alfaraby. (CNN Indonesia/Nurika Manan) |
[Gambas:Video CNN]
"Itu akan mengimbangi kebijakan yang negatif," saran Adjie.
Survei LSI Denny JA juga menemukan penurunan kepercayaan publik dialami sejumlah lembaga negara lain seperti DPD, DPR, Kepolisian, Mahkamah Konstitusi, KPK, KPU, Bawaslu dan TNI.
Penurunan kepercayaan merembet hingga pers, ulama, dan kelompok masyarakat sipil.
Menurut Adjie terdapat empat faktor penyebab, antara lain kampanye negatif yang marak selamakontestasi politik, penangkapan kepala daerah karena tersangkut kasus hukum termasuk korupsi, hoaks yang menyerang lembaga negara, dan pembelahan politik di level akar rumput.
Keempat survei itu menggunakan metode sampling multistage random sampling, dengan jumlah responden 1.200 orang.
Para responden tersebar di 34 provinsi di Indonesia dengan margin of error plus minus 2,9 persen. (ika/wis)
Peneliti senior LSI Denny JA, Adjie Alfaraby. (CNN Indonesia/Nurika Manan)