"Secara pribadi saya dukung model orang kayak Ahok ditempatkan di BUMN. Selamat Koh Ahok untuk ditugaskan oleh Joko Widodo di BUMN. Kita buktikan dengan waktu yang berjalan nanti apakah Koh Ahok mampu atau tidak," kata Arief dalam keterangannya, Kamis (14/11).
"Gampang kok jadi dirut BUMN, enggak susah-susah amat jadi pegawainya, apalagi jadi Dirut di PLN dan Pertamina yang produknya pasti laku dan sifatnya monopoli. Enggak ada saingannya di Indonesia," urai dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
Jika direksi yang mendampingi Ahok tak berintegritas, Arief khawatir mantan bupati Belitung Timur itu akan banyak tertipu jaringan mafia pemburu rente di PLN.
Dalam cuitannya, Gerindra mengunggah dua foto mengenai kasus yang pernah menjadi polemik saat Ahok menjadi gubernur DKI. Salah satu foto menunjukkan bangunan RS Sumber Waras dan foto lainnya berupa potongan berita di media cetak bertuliskan 'Audit BPK, Pembelian Lahan atas Disposisi Ahok'.
"Kita semua mengetahui bahwa Mantan Gubernur DKI Jakarta (Ahok) tersebut memiliki rekam jejak dua kasus yang belum jelas penyelesaiannya, yaitu kasus Sumber Waras dan pembelian tanah di Cengkareng, Jakarta Barat. #SuaraGerindra @KemenBUMN @erickthohir"
Partai pimpinan Prabowo Subianto ini juga mengaku memahami dan menghormati bahwa penunjukan pimpinan di BUMN merupakan hak Erick. Namun, Gerindra menyebut BUMN harus dipimpin individu yang tepat, berintegritas, kapabel, dan punya rekam jejak yang jelas dalam memimpin sebuah BUMN.
[Gambas:Video CNN]
Senada, anggota DPR Komisi VI dari fraksi Gerindra Andre Rosiade meminta Erick berkoordinasi terlebih dulu dengan KPK dan BPK sebelum menunjuk Ahok.
"Anggota @DPR_RI Komisi VI @andre_rosiade menghormati keputusan @KemenBUMN @erickthohir untuk mengangkat Ahok, tapi beliau menyarankan agar Menteri BUMN bisa berkoordinasi dengan @KPK_RI dan @bpkri terlebih dahulu. #SuaraGerindra"
Ahok sebelumnya dikabarkan bakal mengisi posisi pimpinan di salah satu perusahaan BUMN.
Lihat juga:Masuk BUMN, Ahok Singgung Krakatau Steel |
"Bisa dua-duanya. Ini pakai proses seleksi. Masih dalam proses," kata Jokowi, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (14/11). (psp/arh)