"Bimbingan perkawinan digelar untuk membekali calon pengantin dalam merespons problem perkawinan dan keluarga, mempersiapkan mereka agar terhindar dari problem perkawinan yang umum terjadi, serta meningkatkan kemampuan mewujudkan keluarga sakinah," ujar Fachrul seperti dikutip dari website Kemenag, Jumat (15/11).
Fachrul mengatakan, bimwin dilakukan dengan metode tatap muka selama dua hari dengan metode pembelajaran orang dewasa. Materi yang disampaikan yakni tentang pondasi keluarga sakinah, penyiapan psikologi keluarga, manajemen konflik, tata kelola keuangan keluarga, menjaga kesehatan keluarga, dan mencetak generasi berkualitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini hanya dari unsur penghulu dan penyuluh Kemenag serta ormas Islam. Jika disinergikan dengan penyuluh kesehatan dan psikolog, mungkin akan lebih efektif lagi," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Menurut Fachrul, bimwin tidak hanya dilakukan Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat (Ditjen Binmas) Islam tapi juga sejumlah agama lain yakni bimbingan keluarga Sukinah oleh Ditjen Binmas Hindu, keluarga Kristiani, keluarga Bahagia oleh Ditjen Binmas Katolik, dan keluarga Hittasukhaya oleh Ditjen Binmas Buddha.
Nantinya calon pengantin akan mengikuti pelatihan seperti pasangan beragama Katolik yang memiliki bimbingan serupa minimal tiga bulan.
Saat pelatihan itu dilaksanakan, kedua pasangan betul-betul mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan rumah tangga dengan pasangannya. Keduanya akan dilatih berbagai pengetahuan, termasuk soal mengelola emosi, keuangan hingga pengetahuan soal kesehatan dan alat reproduksi. (psp/osc)