Hal itu ia sampaikan untuk merespons pernyataan Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Aljufri yang menyinggung mantan kader PKS agar menyelesaikan masalah ketimbang membuat partai baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Salim dikenal sebagai sosok tak pernah mau disalahkan dan justru menyalahkan orang lain bila para kader mengundurkan diri dari PKS. Padahal, Fahri menilai keluarnya para kader itu semata-mata akibat kesalahan para pimpinannya.
"Nah ini yang sebenarnya budaya kepemimpinan yang tak bertanggung jawab dan memang susah, karena feodalisme menyatu dengan kekuasaan. Sehingga enggak ada koreksi kepada pimpinan," kata Fahri.
Melihat hal itu, Fahri mengajak masyarakat untuk melihat dengan jernih bahwa banyak kader PKS yang mengundurkan diri saat berada di bawah kepemimpinan Salim Segaf dan Presiden PKS Sohibul Iman.
Ia mengatakan budaya politik yang tumbuh di internal PKS memandang para pimpinannya tak mungkin salah. Kebiasaan itu pun ia prediksi akan berlanjut sampai masa yang akan datang.
"Jadi kalau orang pecah, pertanyaannya itu di bawah kepemimpinannya siapa? Menyalahkan diri dan bahkan mengundurkan diri. Tapi di PKS tak ada logika semacam ini, yang ada pemimpin enggak mungkin salah. Itu yang menyedihkan sampai kapan pun," kata Fahri.
Dalam Rakornas PKS, Kamis (14/11), Salim mengatakan menyelesaikan masalah dengan membuat partai baru tidak tepat. Dia menyebut menyelesaikan masalah internal partai harus dilakukan dengan kesabaran.
"Kalau ketidakcocokan terjadi di antara kita, antara ikhwan dan akhwat, penyelesaiannya bukan terus keluar, buat partai baru, bukan. Jadi krisis hati ya penyelesaiannya kembali kepada hati. Perlu di situ kesabaran, hal-hal yang berkaitan dengan hati," kata dia di Hotel Bidakara. (rzr/asa)