Cerita Mega Bentuk BMKG Bersama Gus Dur Saat Krisis Moneter

CNN Indonesia | Senin, 25/11/2019 20:39 WIB
Megawati Soekarnoputri meminta pemerintah menerapkan kurikulum kebencanaan di semua tingkatan sekolah di Indonesia. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri punya kenangan bersama Presiden ke-4 RI Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Salah satu yang paling berkesan adalah saat bekerja sama menginisiasi pembentukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Atas jasa tersebut Megawati mendapat penghargaan dari Kepala BMKG Dwikorita Karnawati sebagai tokoh penguatan dan modernisasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika hari ini, Senin (25/11).

Dalam acara serah terima penghargaan di Kantor BMKG, Mega menuturkan embrio pembentukan BMKG dimulai saat dirinya menjabat Wakil Presiden ke-8 mendampingi Gus Dur. Kala itu, kondisi perekonomian Indonesia masih lesu akibat dampak krisis moneter 1997-1998.


Megawati ingat betul saat itu banyak bencana alam besar di pelbagai daerah. Ditambah lagi, pemerintah belum menyiapkan sistem pencegahan dini untuk mengantisipasi dan menanggulangi bencana.

Berangkat dari kondisi itu Mega mengaku ditugaskan khusus oleh Gus Dur untuk mencari cara agar pemerintah mampu melakukan deteksi dini dan penanggulangan bencana.

Selama proses kerja Mega mengaku kaget karena institusi yang selama ini bertugas mengurus deteksi dini dan penanggulangan bencana hanya berstatus subdirektorat di bawah Kementerian Perhubungan.

Cerita Mega Bentuk BMKG Bersama Gus Dur Saat Krisis MoneterPresiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. (AFP PHOTO/Sonny TUMBELAKA)
Melihat kondisi itu, ia mengusulkan kepada Gus Dur agar memecah subdirektorat itu dari Kemenhub untuk kemudian dibentuk sebuah badan selevel kementerian.

"Saya bilang ke Gus Dur, 'Mas saya enggak terima tugas ini kalau enggak bisa diubah'. Kenapa yang namanya badan penanggulangan bencana ini ada di bawah Kementerian? Kalau gini korbannya sudah enggak tahu berapa. Saya bilang saya enggak mau tahu harus dipisah," cerita Mega.

Gus Dur, disebut Mega, memberi lampu hijau kepada dirinya untuk membentuk badan tersendiri yang mengurusi kebencanaan. 

"Saya sempat mikir, ini masalah keuangan yang minim kala itu. jadi saya tanya sama presiden kalau tidak ada dana bagaimana jalan? Tapi presiden juga sangat membantu dan selain itu saya juga harus kreatif. Harus inovatif," kata Mega.

Sebelum BMKG diresmikan, Gus Dur sudah terlebih dulu turun dari takhtanya sebagai presiden. Megawati naik menjadi presiden. Di masa pemerintahannya itulah Megawati meneken Keputusan Presiden Nomor 46 dan 48 tahun 2002 yang menyebut BMKG sebagai badan tersendiri.

Kurikulum Bencana

Dalam acara serah terima penghargaan itu Megawati juga meminta pemerintah mengimplementasikan kurikulum tentang kebencanaan di semua tingkatan sekolah di Indonesia.

Kurikulum kebencanaan disebut penting lantaran Indonesia berada di wilayah cincin api atau ring of fire yang rawan terhadap bencana alam.

"Orang Jepang itu dari anak-anak dia sudah baik dan diajarkan. Jadi saya minta tolong bencana ini masuk ke kurikulum karena di Jepang itu masuk kurikulum dan harus dilaksanakan," kata dia.

Megawati lantas menceritakan pengalamannya merasakan gempa bumi di Negeri Sakura.

Saat gempa terjadi Mega mengaku sedang menyantap makanan cepat saji. Getaran gempa tak membuat orang-orang dalam restoran panik.

Megawati mengatakan masyarakat Jepang sudah tahu betul kapan harus mengevakuasi diri dan kapan bersikap tenang tatkala bencana terjadi.

[Gambas:Video CNN]
"Jadi di sana ada alarm. Alarm pertama masih tenang, mulai kedua ketiga itu udah pasti harus turun. Kalau memang sudah sampai ketiga berarti sudah harus lari ke tempat tujuan yang aman," lanjut dia.

Megawati turut berharap agar pemerintah Indonesia mencontoh teknologi peringatan dini Tiongkok dalam menghadapi bencana. Megawati bercerita bahwa BMKG milik pemerintah Tiongkok memiliki satelit yang canggih untuk mendeteksi dini bencana secara cepat.

Dengan kecepatan deteksi itu masyarakat bisa melakukan evakuasi secara cepat saat bencana terjadi.

"Jadi real time-nya itu sudah 2 menit. Jadi artinya bayangkan 2 menit setelah kejadian langsung bunyi alarm peringatannya," katanya.

Menurut Megawati pemerintah seharusnya memiliki satelit seperti Tiongkok. Meski harganya cukup mahal, namun sangat efektif untuk menyelamatkan banyak nyawa manusia.

"Harganya sekitar 1,4 triliun. Tapi kenapa tidak kalau untuk menolong masyarakat," kata Mega.



(rzr/wis)