Atas jasa tersebut Megawati mendapat penghargaan dari Kepala BMKG Dwikorita Karnawati sebagai tokoh penguatan dan modernisasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika hari ini, Senin (25/11).
Dalam acara serah terima penghargaan di Kantor BMKG, Mega menuturkan embrio pembentukan BMKG dimulai saat dirinya menjabat Wakil Presiden ke-8 mendampingi Gus Dur. Kala itu, kondisi perekonomian Indonesia masih lesu akibat dampak krisis moneter 1997-1998.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. (AFP PHOTO/Sonny TUMBELAKA) |
"Saya bilang ke Gus Dur, 'Mas saya enggak terima tugas ini kalau enggak bisa diubah'. Kenapa yang namanya badan penanggulangan bencana ini ada di bawah Kementerian? Kalau gini korbannya sudah enggak tahu berapa. Saya bilang saya enggak mau tahu harus dipisah," cerita Mega.
Gus Dur, disebut Mega, memberi lampu hijau kepada dirinya untuk membentuk badan tersendiri yang mengurusi kebencanaan.
"Saya sempat mikir, ini masalah keuangan yang minim kala itu. jadi saya tanya sama presiden kalau tidak ada dana bagaimana jalan? Tapi presiden juga sangat membantu dan selain itu saya juga harus kreatif. Harus inovatif," kata Mega.
Kurikulum Bencana
Dalam acara serah terima penghargaan itu Megawati juga meminta pemerintah mengimplementasikan kurikulum tentang kebencanaan di semua tingkatan sekolah di Indonesia.
Kurikulum kebencanaan disebut penting lantaran Indonesia berada di wilayah cincin api atau ring of fire yang rawan terhadap bencana alam.
"Orang Jepang itu dari anak-anak dia sudah baik dan diajarkan. Jadi saya minta tolong bencana ini masuk ke kurikulum karena di Jepang itu masuk kurikulum dan harus dilaksanakan," kata dia.
Megawati lantas menceritakan pengalamannya merasakan gempa bumi di Negeri Sakura.
Saat gempa terjadi Mega mengaku sedang menyantap makanan cepat saji. Getaran gempa tak membuat orang-orang dalam restoran panik.
Megawati mengatakan masyarakat Jepang sudah tahu betul kapan harus mengevakuasi diri dan kapan bersikap tenang tatkala bencana terjadi.
[Gambas:Video CNN]
"Jadi di sana ada alarm. Alarm pertama masih tenang, mulai kedua ketiga itu udah pasti harus turun. Kalau memang sudah sampai ketiga berarti sudah harus lari ke tempat tujuan yang aman," lanjut dia.
Megawati turut berharap agar pemerintah Indonesia mencontoh teknologi peringatan dini Tiongkok dalam menghadapi bencana. Megawati bercerita bahwa BMKG milik pemerintah Tiongkok memiliki satelit yang canggih untuk mendeteksi dini bencana secara cepat.
"Jadi real time-nya itu sudah 2 menit. Jadi artinya bayangkan 2 menit setelah kejadian langsung bunyi alarm peringatannya," katanya.
Menurut Megawati pemerintah seharusnya memiliki satelit seperti Tiongkok. Meski harganya cukup mahal, namun sangat efektif untuk menyelamatkan banyak nyawa manusia.
"Harganya sekitar 1,4 triliun. Tapi kenapa tidak kalau untuk menolong masyarakat," kata Mega.
(rzr/wis)
Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. (AFP PHOTO/Sonny TUMBELAKA)