Tito: Sejak 01-02 Bergabung, Urusannya Tinggal Alumni 212

CNN Indonesia | Selasa, 26/11/2019 13:47 WIB
Tito: Sejak 01-02 Bergabung, Urusannya Tinggal Alumni 212 Mendagri Tito Karnavian, seraya terkekeh, menyebut alumni 212 masih menjadi hambatan Indonesia dalam menjaga stabilitas politik(CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengklaim stabilitas politik Indonesia lebih baik dari Malaysia sejak Joko Widodo dan Prabowo Subianto melakukan rekonsiliasi usai Pilpres 2019. Tito menyebut saat ini hanya gerakan alumni 212 yang menjadi hambatan dalam menjaga stabilitas politik Indonesia.

Pernyataan itu ia sampaikan seraya tertawa saat berpidato dalam Musyawarah Nasional Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) Tahun 2019 di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (26/11).

"Dalam pandangan Malaysia kemarin, saya bertemu dengan banyak tokoh di sana, politik Indonesia itu stabil sekarang, terutama semenjak gabungnya 01 sama 02, tinggal urusannya 212 saja," kata Tito.


Lelucon itu direspons para gubernur yang menghadiri acara tersebut. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sempat terlihat berbisik lalu tertawa bersama.

Tito kemudian bercerita pengalamannya saat bertemu dua pengusaha besar Malaysia pekan lalu. Dia menyebut para pengusaha di sana sedang galau karena kondisi politik masih abu-abu jelang pemilihan perdana menteri. Ditambah kebangkitan kubu oposisi United Malays National Organization (UMNO) di beberapa daerah.

"Dia mendekati saya, 'Kita mulai prioritasi Indonesia'. Saya bilang, 'Kenapa enggak di Malaysia saja?' 'Waduh, Pak, politik masih enggak stabil nih, nanti yang menang siapa kita enggak ngerti nih'," kata Tito menirukan percakapan dengan pengusaha Malaysia.
Tito lantas berpesan kepada para gubernur untuk menjaga stabilitas di wilayahnya masing-masing. Dengan begitu, investor tertarik untuk menanamkan investasi.

Saat ini, kata Tito, hanya tinggal menyederhanakan birokrasi untuk membuat investor tertarik menyuntikkan dananya.

"Dalam pandangan luar, Indonesia ini sekarang ini politiknya stabil, sehingga ada keinginan investor masuk ke Indonesia itu tinggi. Tapi terhambat pada problema regulasi dan kepastian hukum," ujar Mantan Kapolri tersebut.

Joko Widodo dan Prabowo Subianto merupakan seteru di Pilpres 2019 lalu. Mereka juga pernah bertarung mendapatkan kursi RI-1 pada 2014.

Pada Pilpres 2019, kubu Jokowi dan Prabowo bertarung sengit. Masyarakat terbelah selama masa kampanye, yakni pendukung paslon 01 Jokowi-Ma'ruf Amin dengan simpatisan paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
[Gambas:Video CNN]

Kubu Prabowo-Sandiaga sempat mengklaim kemenangan meski hasil hitung cepat mayoritas lembaga survei menyatakan Jokowi-Ma'ruf unggul perolehan suara. Hingga kemudian, merujuk pada hasil resmi rekapitulasi KPU, Jokowi-Ma'ruf dinyatakan memperoleh suara lebih banyak ketimbang Prabowo-Sandi.

Sempat pula terjadi demonstrasi berujung kerusuhan di sekitar kantor Bawaslu, Jakarta jelang pengumuman hasil rekapitulasi KPU pada 21-22 Mei. Ratusan orang divonis bersalah.

Namun, seiring berjalannya waktu, Prabowo bergabung dalam Kabinet Indonesia Maju yang dibentuk Jokowi-Ma'ruf Amin. Prabowo menjadi Menteri Pertahanan. Diikuti Wakil Ketua Umum Gerindra Edhy Prabowo yang mengisi Menteri Kelautan dan Perikanan.

Sementara kelompok alumni 212 sendiri terbentuk ketika gelombang unjuk rasa dilakukan terhadap eks Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada 2016. Kala itu, mereka menganggap Ahok telah melakukan penodaan agama Islam melalui pernyataannya.

Ahok lalu divonis bersalah. Dia kini sudah menjalani hukuman penjara 2 tahun. Namun, kelompok Alumni 212 masih ada. Mereka masih tergabung dalam Persaudaraan Alumni 212 dan berulang kali menggelar reuni setiap 2 Desember.
(dhf/bmw)