Dalam pertemuan itu, Ma'ruf menyatakan membahas sejumlah persoalan bangsa dan negara, termasuk soal radikalisme.
"Ya semua hal itu termasuk yang diamati dan diantisipasti, soal radikalisme, intoleran," ujar Ma'ruf.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pimpinan majelis agama berusaha supaya masalah itu tidak menimbulkan perpecahan bangsa. Maka sepakat untuk lakukan berbagai kegiatan, mulai dari olahraga, kesenian, di semua daerah termasuk di Papua," katanya.
Wakil Presiden Ma'ruf Amin sebelumnya menerima Pengurus Pusat Asosiasi Program Studi Hukum Syariah (APHESI) di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin (25/11). (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan) |
Selama ini, kata dia, kerap terjadi konflik hanya karena tersinggung pernyataan, khotbah, hingga masalah kesukuan. Oleh karena itu, menurutnya, penting peran dari para pemimpin majelis agama untuk meredam konflik tersebut.
"Sehingga ke depan perlu sikap antisipatif supaya tidak terjadi lagi. Itu yang menjadi perhatian dan tanggung jawab kita semua," tuturnya.
Sejumlah tokoh yang hadir yakni dari MUI Abdullah Jaisi dan Nadjamuddin Ramli, PBNU Eman Suryana, PP Muhammadiyah Mughni Syafig, Ketua Umum Konferensi Wali Gereja Agustinus Heri Wibowo, Ketua Umum PGI Gomar Gultom.
Selain itu hadir pula Ketua Harian Dharma Adhyaska Perwakilan Umat Buddha Indonesia Bhante Khanit-Suhu Dutavida, Ketua Umum Majelis Ulama Konghucu Indonesia Budi Tanuwibowo, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia Wisnu Bawa Taneya, dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasarudin Umar.
[Gambas:Video CNN] (psp/pmg)
