Anggaran ini digunakan untuk fasilitas penyediaan kredit bagi warga yang mengajukan DP 0 Rupiah, salah satu program unggulan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita maksimalin saja. Kan, banyak rusun. Jadi kita prioritas untuk warga tinggal di rusun saja," ujar Prasetio.
Sore ini, baik dari DKI dan DPRD DKI sama-sama kembali mengajukan efisiensi untuk anggaran pembiayaan ini. DKI mengajukan anggaran Rp500 miliar sementara DPRD DKI Jakarta mengajukan anggaran di 0 kan alias dipotong habis.
Dengan sejumlah pertimbangan dan naik turun anggaran di pos yang lain, akhirnya Dewan dan Pemprov DKI sepakat untuk berhenti pada angka Rp500 miliar. Anggota Banggar Pandapotan Sinaga mengatakan bahwa anggaran pinjaman daerah masih relevan diberikan.
"Pinjaman daerah itu tidak bisa di nol kan. Karena memang ada angka untuk kebutuhan perumahan yang harus diakui," kata Pandapotan.
Adapun jumlah harga rumah yang ditawarkan sangat beragam mulai dari Rp180 juta hingga Rp310 juta. Masyarakat diperbolehkan untuk mencicil dengan dana talangan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Bank DKI dengan tenor maksimal 20 tahun. (ctr/wis)