Fachrul menyadari rencana tersebut menuai pro dan kontra di masyarakat. Namun Kemenag akan tetap menjalankan hal tersebut karena saat ini banyak pendakwah yang membodohi umat.
"Tapi paling tidak kami senang bahwa ternyata sudah cukup banyak yang menanggapi ini, penceramah bersertifikat. Ini juga bukan hanya Islam, semua agama," kata Fachrul dalam pidato pembukaan Dialog Tokoh/Pimpinan Ormas Islam Tingkat Nasional di Hotel Ardyaduta, Jakarta, Rabu (27/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perubahan nama dilakukan demi menghindari kesan wajib. Fachrul menuturkan tak ada paksaan sedikit pun dari pemerintah dalam program ini.
Pertemuan para ulama membahas Standardisasi Dai Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Senin (25/11). (CNN Indonesia/Nurika Manan) |
Fachrul berkata sertifikasi penceramah akan diterapkan mulai 2020. Program ini akan melibatkan ormas Islam yang ada di Indonesia.
"Diusahakan tahun ini, jangan lama-lama mulainya ya. Tapi kembali digarisbawahi sukarela, yang mau ikut, ikut, yang enggak, enggak," kata Fachrul kepada CNNIndonesia.com di Hotel Best Western, Jakarta, Rabu (30/10).
Wacana itu pun menimbulkan pertentangan di publik. Belakangan, PA 212 menuding ada agenda terselubung yang direncanakan MUI dan Kemenag dalam sertifikasi pendakwah. Seperti diketahui, MUI sudah lebih dulu memulai program tersebut pada November ini.
"Sebenarnya apa semuanya ini? Kita lihat hasilnya ke depan. Jadi kalau sekarang penuh dengan agenda-agenda, hidden agenda, baik dilakukan MUI maupun Menag," kata Jubir PA 212 Haikal Hasan lewat pesan suara kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/11) malam.
