Slamet menyebut pernyataan Billy berpotensi memecah belah masyarakat. Menurutnya, Billy seharusnya fokus dengan tugasnya membantu program-program presiden daripada membuat pernyataan kontroversial.
"Orang awam bisa membacanya seperti itu (memecah belah). Tapi yang jelas memecah belah atau tidak, kita lihat nanti kerjanya seperti apa, ada manfaatnya apa tidak," kata Slamet saat ditemui usai Reuni Akbar 212 di Monumen Nasional, Jakarta, Senin (2/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ingin menyelesaikan persoalan, ya pulangkan dong Habib Rizieq, selesai semua, kita akan duduk bersama, kita akan komunikasi. Tapi selagi Habib Rizieq belum dipulangkan, mohon maaf kami tidak akan komunikasi dengan pemerintah," ujarnya.
"Setelah membahas tentang Pancasila (yang bikin kubu sebelah megap-megap). Lalu mendesain kartu Pra-kerja di Jakarta. Lalu saya ke Pulau Damai penuh keberagaman: Bali! Untuk mengisi materi co-working space, mendorong bertambahnya jumlah entrepreneur muda. Untuk pengurangan pengangguran dan angka kemiskinan," tulis Billy dalam cuitannya.
Tak lama setelah diunggah, kritik menghujani kolom komentar. Billy menghapus cuitan tersebut dan membuat pernyataan klarifikasi beberapa saat setelahnya.
"Saya pertama memohon maaf atas kesalahpahaman yang muncul karena salah satu cuitan saya yang menggunakan kata yang menimbulkan multitafsir, yaitu kata: 'kubu'," tulisnya seperti dikutip CNNIndonesia.com, Minggu (1/12). (dhf/ain)