"Modusnya, Hendra, ketua kelompok ini membuka lowongan untuk posisi cleaning service di media sosial dengan syarat cukup lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)," ujar Kasubdit V Siber Polda Jatim, AKBP Cecep Susatya di Mapolda setempat di Surabaya, Rabu (4/12), seperti dikutip Antara.
Ia menyatakan, tak ada syarat khusus lain yang dicantumkan, hanya lulusan SMK dan punya kemampuan komputer.
Usai mengirim lamaran, Hendra akan menyeleksi terlebih dahulu, kemudian memanggil pelamar yang memang memenuhi kriteria untuk dilakukan tes secara langsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, para remaja yang sudah mendapat pelatihan dijadikan spammer akan ditugasi mengirim berbagai penawaran iklan yang bisa dibayar dengan kartu kredit secara acak. Nilai yang dibayar tiap akun nilainya Rp400 ribu.
[Gambas:Video CNN]
Untuk sasarannya, Cecep mengungkapkan sebenarnya acak, tapi setelah diselidiki banyak warga negara Eropa dan Amerika yang menjadi korban karena sistem perbankan di sana lebih mudah.
"(Perbankan di sana) bila nasabah yang punya kartu kredit mengklaim tidak melakukan transaksi sesuatu, pihak bank punya kewajiban me-refund dana yang keluar dari nasabah. Jadi merasa tidak ada yang dirugikan," katanya.
Lihat juga:Cara Cegah Akun Instagram Diretas Orang |
Sebelumnya, Polda Jatim pada Senin (2/12/2019) menggerebek praktik penipuan berbasis siber menggunakan kartu kredit di kawasan Balongsari Tama, Tandes, Surabaya.
"Kejahatan tersebut terorganisasi dan sudah berjalan selama tiga tahun. Omzet yang dihasilkan dari kegiatan tersebut dapat mengumpulkan setidaknya 40.000 dolar AS," kata Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Gidion Arief Setyawan. (eks)