Kak Seto Usul ke Nadiem, Kurikulum Disesuaikan Kebutuhan Anak

CNN Indonesia | Kamis, 05/12/2019 16:52 WIB
Seto Mulyadi alias Kak Seto menyebut ada tiga konsep pendidikan, yakni formal, nonformal, dan informal, yang bisa diterapkan sesuai kebutuhan anak. Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi atau Kak Seto. (CNN Indonesia/M. Andika Putra).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi, atau yang akrab disapa Kak Seto menyarankan agar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memperhatikan kebutuhan dan karakteristik anak dalam penggodokan kurikulum pendidikan yang baru.

"Yang harus terjadi adalah kurikulum untuk anak. Jangan di balik, anak untuk kurikulum. Selama semua itu muaranya ke anak, demi kepentingan terbaik anak. Demi pemenuhan hak belajar anak. Jadi semua anak senang belajar," tutur Kak Seto kepada CNNIndonesia.com, Kamis (5/12).

Psikolog anak itu mengacu pada lingkungan belajar di sekolah formal yang belum mendorong keinginan belajar anak. Yang ia lihat, sekolah formal kebanyakan justru membuat anak tertekan dan menjadikan mereka sungkan belajar.


Seto melihat setiap anak seyogyanya mempunyai karakter dan kebutuhan yang berbeda. Sehingga kurikulum pendidikan yang diterapkan harusnya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.

Dalam hal ini Kak Seto menyebut yayasannya sebagai salah satu contoh. Yayasan Kazeto Putra Perkasa (YKPP) menaungi tiga konsep sekolah, yakni sekolah formal, non-formal, dan informal.

Konsep sekolah formal, non-formal, dan informal yang dimaksud sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Kak Seto mengatakan sekolah non-formal yang ia kelola justru menghasilkan lebih banyak lulusan yang unggul. Di sekolah non-formalnya ia menerapkan waktu belajar hanya tiga hari dalam seminggu, selama tiga jam setiap harinya.

"Lulusannya [dari sekolah non-formal] untuk sisi akademik banyak yang diterima di kedokteran, ada di lima PTN. Ada yang diterima di UI, UGM, UNHAS, ITB sampai IPB. Untuk non akademik ada yang jadi sutradara, chef, artis," jelas Kak Seto.

"Mereka bisa jadi dirinya masing-masing, [akhirnya bisa] sukses. Karena sekolah mengasyikan, menyenangkan, tidak stress," tambahnya kembali.

Selain itu ia menjelaskan, modul pelajaran juga disusun sedemikian rupa agar lebih ringkas dan mudah dimengerti anak.

[Gambas:Video CNN]

Kak Seto kemudian membandingkan penerapan kurikulum ini dengan kondisi di sekolah formal lain. Kemarin ia berkunjung ke Mapolres Metro Jakarta Utara untuk menengok tiga orang yang menjadi tersangka karena tawuran berujung maut di Jalan Sunter Kangkungan, Tanjung Priok.

"Kemarin di Jakarta Utara ada anak-anak tawuran. Katanya sambil bermain gembira, tapi ada bacok-bacokan. Kenapa begini? Karena anak stres di sekolahnya. Kurikulum terlalu padat, PR bertumpuk," ujarnya.

Kendati demikian, Kak Seto mengatakan bukan berarti kurikulum untuk semua sekolah harus diganti jadi tiga hari waktu belajar selama seminggu. Dia menegaskan kurikulum harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan anak, sehingga tidak ada tekanan yang akhirnya menimbulkan kegiatan-kegiatan negatif seperti tawuran.

"Jalur pendidikan itu ada tiga, diakui semua. Yang cocok sekolah formal jangan dipaksa home school (non-formal atau informal). Tapi anak yang tidak cocok sekolah formal sering dipaksa sekolah formal. Pemaksaan ini yang membuat anak jadi tidak merdeka," tuturnya.

Selain soal perubahan kurikulum, Kak Seto juga menggarisbawahi bahwa pelatihan terhadap guru sebagai pengajar juga tak boleh luput. Guru-guru harus dibimbing agar bisa mengajar dengan cara-cara yang kreatif dan memahami betul materi pelajaran. (fey/osc)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK