Menurut Syarif, kedua perhelatan itu sebaiknya digelar secara terpisah. Hal ini diungkapnya merespon wacana revisi Undang-undang tentang Pemilihan Umum (Pemilu) terkait pemisahan penyelenggaraan Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg).
"Kami Demokrat memang sudah punya kesimpulan bahwa memang untuk pemilu ke depan lebih bagus itu pilpres dan pileg itu dipisahkan," kata Syarif di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (6/12).
Syarif beralasan pemisahan pelaksanaan pemilu bertujuan agar tak membuat masyarakat dan parpol kebingungan. Sebab, menurutnya banyak parpol yang kebingungan saat melakukan sosialisasi atau kampanye kepada masyarakat. Mereka bingung berkampanye untuk memprioritaskan Pileg atau Pilpres.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, Syarif beranggapan bahwa pelaksanaan Pemilu secara serentak dikhawatirkan akan menelan banyak korban jiwa saat pelaksana pemilu. Sebab, dibanyak tempat banyak yang proses perhitungan suara sendiri digelar hingga pagi hari.
Berkaca pada Pemilu 2019 lalu, data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan sebanyak 527 Petugas KPPS meninggal dan 11.239 orang sakit.
[Gambas:Video CNN] (rzr/eks)