Fachrul menyebut tak mungkin pelaksanaan UU Pesantren ini dikerjakan sendirian.
"Koordinasi kami jalan terus lah. Gak ada sesuatu yang bisa dikerjakan sendirian," kata Fachrul di Gedung Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (9/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti kita lihat poin yang bisa dianukan, dikoordinasikan," kata dia.
Di antaranya, Panja RUU Pesantren telah melakukan perubahan nama dari awalnya bernama RUU tentang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan menjadi RUU Pesantren. Selain itu, RUU Pesantren turut mengatur dana abadi pesantren tetap menjadi bagian dari dana pendidikan.
Tak hanya itu, Ali menjelaskan bahwa proses pembelajaran Pesantren memiliki ciri yang khas, dimana ijazah kelulusannya memiliki kesetaraan dengan lembaga formal lainnya dengan tetap memenuhi jaminan mutu pendidikan.
Sebelum disahkan, RUU Pesantren tak kalah kontroversialnya dengan RUU lain seperti RUU KPK maupun RKUHP yang kemudian jadi perdebatan di masyarakat. Bahkan saat pembahasan berlangsung, dua organisasi besar Islam di Indonesia, PBNU dan PP Muhamamadiyah punya pendapat yang berbeda mengenai RUU Pesantren.
PP Muhammadiyah bahkan sempat berkirim surat ke DPR agar anggota dewan bisa menunda pengesahan RUU Pesantren tersebut. Mereka menilai RUU Pesantren tidak mengakomodasi aspirasi seluruh ormas Islam serta dinamika pertumbuhan dan perkembangan pesantren. Tidak dijelaskan secara gamblang mengenai poin pasal yang menjadi polemik.
PP Muhammadiyah juga mengusulkan agar materi RUU Pesantren dimasukkan dalam revisi Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sementara PBNU sebaliknya, mendukung RUU Pesantren. PBNU menilai isi keseluruhan RUU tersebut dinilai sudah mengakomodir keberagaman pesantren di Indonesia. (tst/ain)