Jokowi diketahui memerintahkan Kapolri Jenderal Idham Azis untuk mengungkap pelaku penyerangan dalam hitungan hari. Ini merupakan perintah kesekian kalinya terhadap pemimpin Polri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mulai dari tiga bulan, lalu sebulan, jadi ini kan bagi saya konyol saja," tuturnya.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
"Polisi boleh saja mencoba menutupi para pelaku ya, tetapi sejarah tidak akan melupakan ini, dan suatu saat juga akan terbongkar," katanya.
Senada, Kuasa Hukum Novel Baswedan, Arif Maulana, menilai Presiden tidak memiliki ketegasan untuk menyelesaikan kasus penyiraman air keras yang menimpa kliennya. Menurutnya, laporan Kapolri Idham Azis kepada Jokowi, Senin (9/12), diprediksi tak memiliki perkembangan berarti.
Arif memandang Jokowi tidak memiliki kemauan untuk mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap Novel. Menurut dia, komitmen pemberantasan korupsi yang senantiasa didengungkan oleh Jokowi hanya sebatas pencitraan belaka.
"Sebetulnya ini menunjukkan kalau selama ini Presiden Jokowi sendiri tidak sungguh-sungguh ingin mendorong pengungkapan kasus Novel Baswedan dan komitmen yang pernah didengungkan terkait pengungkapan kasus Novel dan memperkuat KPK hanya sebatas pencitraan," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Ia mengaku sampai saat ini masih menunggu sikap tegas dari orang nomor satu di Indonesia tersebut. "Seperti membentuk TGPF sebagaimana yang selama ini kita usulkan," imbuh dia.
Sebelumnya, Jokowi mengatakan sudah memerintahkan Kapolri Idham Azis untuk mengungkap kasus penyerangan penyidik KPK itu dalam waktu sesegera mungkin.
"Saya tidak bicara masalah bulan. Kalau saya bilang secepatnya berarti dalam waktu harian. Udah tanyakan langsung ke sana (Polri)," kata Jokowi, di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (10/12).
(fra/ryn/arh)
Foto: CNN Indonesia/Fajrian