"Kami menemukan terdapat 209 kali kata 'infrastruktur' dilontarkan, sedangkan untuk 'hak asasi manusia' hanya 12 kali," tutur Koordinator KontraS Yati Andriyani di Kantor KontraS, Senen, Jakarta Pusat pada Selasa (10/12).
Dari temuan itu, Yati memaknainya sebagai cara pandang rezim atas kebijakannya. Kata 'infrastruktur' lekat dengan Jokowi. Dalam pidatonya, ia kerap membanggakan capaian kerjanya itu yang dinilai paling cemerlang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Video CNN]
Tak hanya infrastruktur, soal investasi juga sering diteriakan oleh mantan gubernur DKI Jakarta itu dengan lantang. Ia gencar mengatakan akan mengejar pihak-pihak yang menghambat lajur investasi di Indonesia.
Menurut Kepala Divisi Pembelaan HAM KontraS Arif Nur Fikri upaya Jokowi mendorong investasi malah mengabaikan dampak HAM maupun ekonomi, sosial dan lingkungan yang ditimbulkan.
Konflik ini sempat berujung pada bentrokan antara petani dengan anggota TNI yang tengah berjaga di camp milik PT WKS. Pihak petani SMB mengklaim menemukan 1 kotak peluru di camp tersebut.
Selain dampak ekonomi, sosial dan lingkungan, pertambangan emas milik PT BSI juga berujung pada tindak kriminalisasi terhadap aktivis Heri Budiawan alias Budi Pego.
Kasus lainnya, menurut KontraS ialah kasus penolakan terhadap pertambangan emas PT Emas Mineral Murni (EMM) di Aceh.
Menurut catatan KontraS ada 11 warisan budaya dan sejarah di lokasi pertambangan emas. Tepatnya berlokasi di Gunung Lhee Sagoe. Salah satu wilayah pertambangan juga berada pada wilayah makam korban kasus pelanggaran HAM masa lalu, yakni kasus Tengku Bantaqiah pada 23 Juli 1999.
Kala itu terjadi penembakan oleh aparat militer yang mengakibatkan tewasnya 56 orang yang dianggap mendukung Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Hingga kini pun kasus ini belum terselesaikan.
Lihat juga:Anies Peringati Hari HAM di Kampung Kumuh |